Indonesia Penggalan Surga

mencintai Tanah Air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal. Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itu Kami naik gunung

Atas nama Cinta

Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis.

Terimalah salamku dari Timur Borneo

Kearifan lokal adalah jati diri bangsa

Terimalah salamku dari timur borneo

Jejak telah di langkahkan seribu kehendak harus terlahirkan,pada jejak kami belajar ,alam adalah pengikat budaya

Atas nama Cinta

Tinggalkanlah jejak yang bermakna, maka bukan saja kehidupan anda yang akan menjadi lebih baik tapi juga kehidupan mereka yang mengikutinya.

Jumat, 16 Oktober 2015

Erau Pelas Benua Guntung - Kota Bontang


Ketua lembaga Adat Guntung bapak H.Hamid Badui bersama Ibu
Setelah berlangsung selama sepekan, perayaan Erau Pelas Benua Guntung di tutup WaliKota Bontang Ir H Adi Darma MSi. Penutupan Erau ini berlangsung di Panggung Adat Kutai Jalan Tari Enggang Kelurahan Guntung Kecamatan Bontang Utara Minggu (22/9) sore.
Dalam sambutannya, Wali Kota H Adi Darma berharap, setelah Erau Pelas Benua Guntung ini berlangsung, masyarakat Bontang dapat terus menjaga kebudayaan adat istiadat serta kesenian daerah yang ada di Kota Bontang.
Kenapa Erau pelas bunua juga ada di Kelurahan Guntung kota Bontang.
Padahal Erau identek dengan Kesultanan Kutai Ing Martadipura yang berpusat di Kota Tenggarong dan ritual Erau juga di laksanakan setiap tahun di pusat kotanya yaitu do kota Tenggarong.Hal ini tak lepas dai wilayah yang menjadi wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara
Sejarah Kutai Kartanegara
Kabupaten Kutai merupakan kelanjutan dari Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Setelah Republik Indonesia berdiri, pada tahun 1947 Kesultanan Kutai Kartanegara dengan status Daerah Swapraja Kutai masuk kedalam Federasi Kalimantan Timur bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir. Kemudian pada 27 Desember 1949 masuk dalam Republik Indonesia Serikat.
Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom/daerah istimewa tingkat kabupaten berdasarkan UU Darurat No.3 Th.1953.
Berdasarkan UU No.27 Tahun 1959, status Daerah Istimewa Kutai dihapus dan daerah ini dibagi menjadi 3 Daerah Tingkat II, yakni:
1. Kotamadya Balikpapan dengan ibukota Balikpapan
2. Kotamadya Samarinda dengan ibukota Samarinda
3. Kabupaten Kutai dengan ibukota Tenggarong
Pada tahun 1999, wilayah Kabupaten Kutai dimekarkan menjadi 4 daerah otonom berdasarkan UU No.47 Th.1999, yakni:
1. Kabupaten Kutai dengan ibukota Tenggarong
2. Kabupaten Kutai Barat dengan ibukota Sendawar
3. Kabupaten Kutai Timur dengan ibukota Sangatta
4. Kota Bontang dengan ibukota Bontang
Peta Wilayah Kabipaten Kutai Kartanegara
Peta Kabupaten Kutai Kartanegara diantara daerah-daerah hasil pemekaran Kutai: Kab. Kutai Barat, Kab. Kutai Timur, Kota Bontang, Kota Samarinda, dan Kota Balikpapan.
Wilayah Administratif Kabupaten Kutai Kartanegara Wilayah Administratif Kabupaten Kutai Kartanegara Wilayah Bekas Kesultanan Kutai Kartanegara Wilayah Bekas Kesultanan Kutai Kartanegara.
Pada tahun 1995 Kabupaten Kutai menjadi salah satu Daerah Percontohan Pelaksanaan Otonomi Daerah, berdasarkan PP No.8 Tahun 1995 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan Kepada Daerah Tingkat II Percontohan.
Istilah Kabupaten Kutai Induk sering digunakan untuk membedakan antara Kabupaten Kutai hasil pemekaran dengan Kabupaten Kutai yang lama. Pada Musyawarah Nasional yang pertama APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia) yang diadakan di Tenggarong pada tahun 2000, Presiden RI Abdurrahman Wahid yang membuka Munas tersebut mengusulkan agar Kabupaten Kutai hasil pemekaran menggunakan nama Kabupaten Kutai Kartanegara, mengingat kota Tenggarong juga merupakan ibukota dari Kesultanan Kutai Kartanegara.
Tanggal 23 Maret 2002, Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri menetapkan penggunaan nama Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Peraturan Pemerintah RI No. 8 Tahun 2002 tentang “Perubahan Nama Kabupaten Kutai Menjadi Kabupaten Kutai Kartanegara”

Sebelum Kota Bontang Diberi nama Bontang oleh Kesultanan Kutai telah ada Tertulis didalam Kitab Saway ( kitab kesultanan kutai ) nama kampong / Daerah Kanibungan ( sekarang Kelurahan Guntung),Pada masa itu masyarakat Kutai Daerah Setempat pernah dipanggil dan diundang oleh Raja Kutai Kartanegara Adji Batara Agung Dewa Sakti ( 1300-1325 ) ke jahitan layar/ Kesultanan Kutai di Tenggarong untuk menyaksikan seruan/Titah Raja atas pemberian nama Bontang kepada daerah yang masih tanah tuah ( keramat ) Kutai. 
Adapun Selanjutnya Perpindahan orang kutai Tenggarong yang masih Kerabat/Keluarga Kesultanan Ada Beberapa Tahap Ke kota Bontang 
Tahap Pertama
Tahun 1782 masa pemerintahan Sultan AM.Muslihuddin,sultan keXV keroan/kerabat kesultanan kutai berdatangan Karena Ditugaskan ke Bontang Sehingga mereka menetap di Gunung Terake ( gunung Sari-Kelurahan Api-Api sekarang ) sebagian lagi Daerah ke Lempake ( kelurahan Loktuan ) & Kanibungan( Kelurahan Guntung ) ini asal usul nenk Moyang Nenek Moyang Radja Bontang Dengan ditandai adanya kuburan di daerah Lempake ( Kelurahan Loktuan ) th 1782 dan kuburan daerah kanibungan ( Kelurahan guntung ) 1788 Mereka ini Ditugaskan oleh Kesultanan untuk menjaga garis pantai daerah kekuasaan Kerajaan Kutai dipesisir Pantai Timur kerena kerajaan waktu itu (1778-1780) pernah dirampok lanun/bajak laut solok Melalui Pesisir Pantai Tersebut. 
Tahap kedua 
Pada masa pemerintahan Sultan ke 16 AM.Salehoddin(1782-1850) Orang Ingris Bernama James Erskine Murray ( Tuan besar raja Maris ) mau membuat atau mendirikan kantor di tenggarong tidak diperbolehkan Oleh Sultan Kutai,karena tidak diperbolehkan Mendirikan Kantor maka Tuan besar maris tersebut marah dan menembak Gerbang keraton kutai dan Kemudian dibalas oleh Awang Long Pangeran Senopati Kesultanan Kutai Karena tembakan balasan tersebut rupanya mengenai J Erskine Muray sehingga tewas / mati Maka Mendengar Hal berita itu maka Gubernumen Belanda memerintahkan Armada Lautnya yang dikirim dari makassar untuk menyerang kerajaan kutai ,Setelah berperang beberapa lamanya Karena Persenjataan yang kalah jauh dan Moreren kala itu maka kesultanan kutai kalah dalam berperang Dan juga karena pada waktu itu anak sultan kutai ditangkap oleh belanda maka oleh sebab itu Dengan terpaksa Kesultanan kutai berdamai Sehingga melahirkan perundingan Tirakat tepian pandan pada tgl 11 oktober 1844.Sehingga pada masa itu Kerabat kesultanan yang tidak mau berdamai dengan Belanda Melarikan Diri dari kampong panji ( Tenggarong )menyingkir Menuju ke Bontang daripada ditangkap dan dibunuh oleh Belanda 
Tahap Ketiga 
Masa pemerintahan Sultan AM.Suleman I (1850-1899) Mempunyai saudara Adji Gau yang bergelar gelar Pangeran Kartanegara 2 atau Pengeran Ratu 2 Telah berdiam dibontang yang mendapat hak pungut hasil dari adiknya AM.Suleman I adalah kakek dari Sultan Kutai yang sekarang 1998-2011 Dengan Memungut Hasil Pajak mulai sungai santan sampai bengalon, Mereka bermukim dan tinggal di Paku Aji Oleh sebab itu arti dari Paku Aji = Orang kuat kerabat Sultan Namun sampai hari ini Lembaga adat kutai Bontang belum tahu pasti Dimana lokasi Kuburannya Tetapi Sekarang Daerah Tersebut dekat Mesjid Al-Aqobah / Plant site tidak jaug dari Monumen Pengabdian PT.PUPUK KALTIM ( kalau sejarah Aji Pao tidak ada di Dalam Salsilah keturunan raja-raja Kutai Di Dalam Kitab Saway ) Sumber: Ketua Lembaga Adat Kutai Bontang Penulis Buku Asal muasal Nama Bontang serketaris lembaga Adat Kutai Bontang 

Berdasarkan sejarah di atas maka beberapa kota yang sudah di mekarkan tetap melestarikan ritual ERAU dengan beberpa hal yang menjadi perbedaan ,Seperti Ritual Mendirikan an Merebahkan Tiang Ayu hanya berlaku hanya di kesultanan Kutai Kartanegara yang di laksanakan di Musium Mulawarman Tenggarong.
menurut beberapa Infomasi yang kami peroleh bahwa warga yang mendiami Kelurahan Guntung - mayoritas dari kelurahan Sukarame Tenggarong,

kurang lebihnya mohon maaf atas sumber informasi yang kami peroleh ,semoga menjadi pelajaran kita semua untuk terus belajar dan memahami sejarah di zaman yang semkin pada arus lalu lintas modernisasi sehingga banyak generasi melupakan sejarah lokal.

Bapak Suparno
Daftar pustaka :Diskominfo kukar 
Asal muasal Nama Bontang serketaris lembaga Adat Kutai Bontang
Dokumentasi : Tim JB


SEJARAH KEBUDAYAAN INDONESIA

SEJARAH KEBUDAYAAN INDONESIA

1.    Zaman Batu dan Logam
Indonesia adalah bangsa yang besar dengan sejarah kebudayaan yang sangat panjang. Menurut hasil temuan-temuan yang ada kebudayaan Indonesia sudah dimulai dari zaman Zaman batu, kira-kira 1.7 juta tahun yang lalu. Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli prehistoris, zaman batu dibagi menjadi 3, yaitu :
a.         Zaman Batu Tua (Paleolitikum)
b.         Zaman Batu Pertengahan (Mesolitikum)
c.         Zaman Batu Muda (Neolitikum)

a.        Zaman Batu Tua (Paleolitikum)
Periode zaman ini adalah antara tahun 50.000 SM - 10.000 SM. Pada zaman ini, manusia hidup secara nomaden dalam kumpulan kecil untuk mencari makanan. Mereka memburu binatang, menangkap ikan dan mengambil hasil hutan sebagai makanan. Mereka belum bisa bercocok tanam. Mereka menggunakan batu, kayu dan tulang binatang untuk membuat peralatan memburu. Mereka membuat pakaian dari kulit binatang tangkapan mereka. Selain itu, mereka telah pandai menggunakan api untuk memasak, memanaskan badan dan mengusir binatang.
b.        Zaman Batu Pertengahan (Mesolitikum)
Ketika masa mesolitikum, penduduk Indonesia sudah mulai hidup dengan cara menetap dan sudah mulai bercocok tanam secara sederhana untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka, disamping berburu hewan dan menangkap ikan. Tempat tinggal yang mereka pilih umumnya berlokasi di tepi pantai (kjokkenmoddinger) dan goa-goa (abris sous roche).
·         Kjokkenmoddinger adalah sampah dapur yang berisi siput, kerang dan barang-barang hasil kebudayaan seperti kapak genggam, ditemukan di sepanjang pantai timur Pulau Sumatera.
·         Abris sous roche adalah goa menyerupai ceruk batu karang yang digunakan manusia sebagai tempat tinggal. Ditemukan didaerah Madiun, Besuki, Timor dan Rote.
c.          Zaman Batu Muda (Neolitikum)
Zaman batu muda (Neolitikum) benar-benar membawa revolusi dalam kehidupan manusia. Pada zaman ini, mereka telah hidup menetap, membuat rumah, membentuk kelompok masyarakat desa, bertani dan berternak untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sejalan dengan itu revolusi alat-alat penunjang kehidupanpun terjadi.
Setelah masa Neolitikum, kemudian kebudayaan Indonesia berlanjut kemasa zaman logam. Hal ini ditandai dengan dikenalnya tekhnik untuk mengecor / mencairkan logam dari biji besi, dan menuangkan kedalam cetakan-cetakan serta mendinginkannya. Oleh karena itulah mereka mampu membuat aneka ragam senjata berburu dan berperang serta alat-alat lain yang mereka perlukan.

2.    Kebudayaan Hindu dan Budha
Berkat hubungan dagang dengan negara-negara tetangga maupun dengan yang lebih jauh seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur tengah, di Indonesia pun mulai berkembang kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha. Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal tarikh Masehi (sekitar abad ke 2 sampai abad ke 4), dibawa oleh para musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya, yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para musafir dari Tiongkok yakni musafir Budha Pahyien.
Agama Budha sendiri mulai masuk ke Indonesia pada sekitar abad ke-5. Agama Budha sendiri dikemudian hari berkembang lebih pesat, dikarenakan dalam agama Budha tidak menghendaki adanya kasta-kasta dalam masyarakat.
Kedua agama tersebut tumbuh dan berkembang secara berdampingan secara damai. Kebudayaan Hindu dan Budha beralkulturasi dengan kebudayaan asli Indonesia yang sebelumnya telah ada. Masa kedua agama tersebut ditandai dengan munculnya banyak kerajaan-kerajaan di Nusantara. Berikut adalah daftar kerajaan-kerajaan Hindu-Budha yang ada di Nusantara :
·         Kerajaan Hindu/Buddha di Kalimantan
a.    Kerajaan Kutai
·         Kerajaan Hindu/Buddha di Jawa
a.    Kerajaan Salakanagara (150-362)
b.    Kerajaan Tarumanegara (358-669)
c.    Kerajaan Sunda Galuh (669-1482)
d.    Kerajaan Kalingga
e.    Kerajaan Mataram Hindu
f.     Kerajaan Kadiri (1042 - 1222)
g.    Kerajaan Singasari (1222-1292)
h.    Kerajaan Majapahit (1292-1527)
·         Kerajaan Hindu/Buddha di Sumatra
a.    Kerajaan Malayu Dharmasraya
b.    Kerajaan Sriwijaya

Baik penganut agama Budha dan Hindu sama-sama melahirkan karya-karya budaya yang bernilai tinggi dalam seni bangunan/arsitektur, seni pahat, seni ukir maupun seni sastra, seperti tercermin dalam bangunan/arsitektur, relief-relief yang dibuat dalam dalam candi-candi di Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Candi-candi yang dimaksud diantaranya : Borobudur, Mendut, Prambanan, Kalasan (Jawa Tengah), Badut, Kidal, Jago, Singosari (Jawa Timur).
Candi Borobudur sendiri adalah candi terbesar dan termegah di Asia Tenggara.

3.    Kebudayaan Islam
Pada abad ke 11, diperkirakan agama Islam telah masuk ke Indonesia, khususnya daerah Jawa dan Sumatra. Hal ini ditandai dengan ditemukannya makam dari seorang wanita islam di kota Gresik. Islam sendiri masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan, di bawa oleh para saudagar-saudagar yang berasal dari Timur Tengah. Karena Islam masuk dengan damai tanpa adanya pemaksaan, Islam pun dengan cepat dapat berkembang di Indonesia.
Bersamaan dengan makin surutnya kejayaan Majapahit di Nusantara pada abad ke-15, muncullah kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan yang dimaksud adalah kerajaan Malaka di Semenanjung Malaka, kerajaan Aceh di Ujung Pulau Sumatera, kerajaan Banten di Jawa Barat, kerajaan Demak dipesisir Utara pulau Jawa Tengah.
Persebaran Islam di Indonesia, khususnya di jawa sebagian besar dilakukan oleh wali songo. "Walisongo" berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.
Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Sekarang agama islam telah menjadi agama terbesar di Indonesia, dengan persentase sekitar 90% warga Indonesia memeluk agama Islam. Bahkan Indonesia sekarang adalah negara dengan jumlah pemeluk agama Islam di dunia. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa kebudayaan islam adalah pemberi saham yang besar dalam perkembangan kebudayaan dan kepribadian bangsa.

4.    Kebudayaan Barat
Dimulai dengan kedatangan bangsa Portugis pada tahun 1512 di Ternate, setelah itu disusul oleh Spanyol dan Belanda. Inilah awal dari masuknya kebudayaan Barat di Indonesia. Portugis dan Belanda yang akhirnya menjajah nusantara juga menyebarkan agama Nasrani di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah yang hampir belum tersentuh agama Islam.
Selama sekitar 350 Indonesia dijajah oleh bangsa asing, selama itu pula Indonesia mendapat masukan kebudayaan dari barat. Setelah Indonesia dikuasai mereka, munculnya budaya-budaya barat, contohnya bangunan-bangunan bergaya arsitektur barat, tradisi-tradisi dari barat seperti acara pesta dansa, dan lain-lain.
5.     Kebudayaan dan Kepribadian
Sudah menjadi watak dan kepribadian Timur pada umumnya, serta masyarakat Jawa khususnya, bahwa dalam menerima setiap kebudayaan yang datang dari luar, kebudayaan yang dimilikinya tidaklah diabaikan. Hal ini harus kita pertahankan terus untuk memfilter kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Kita harus menjaga kebudayaan kita dengan baik agar kebudayaan kita berkembang makin baik dan kita tidak kehilangan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia.    

Afrizal Azhari

MKDU Ilmu Sosial Dasar
Harwantiyoko
Neltje F. Katuuk

PENGERTIAN SEJARAH KEBUDAYAAN DAN RUANG LINGKUPNYA

PENGERTIAN SEJARAH KEBUDAYAAN DAN RUANG LINGKUPNYA.


      Sejarah kebudayaan menurut Huizinga adalah usaha mencari morfologi budaya studi tentang struktur. Ini berbeda dengan sosiologi, yang melihat objeknya melalui paradigma, morfologi budaya melihat gejala-gejala yang mempunyai makna yang jelas dalam dirinya. Setiap detail mempunyai maknanya sendiri, tidak semata-mata sebagai ilustrasi dari konsep umum. Kebudayaan sebagai struktur, sebuah bentuk. Demikian juga, sejarah adalah bentuk kejiwaan dengan apa sebuah kebudayaan menilai masa lalunya.


Sejarah adalah ilmu, bukan mitologi atau roman. Pendapat dari Huizinga bahwa sejarah perlu mencari hubungan-hubungan sehingga realitas dapat dipahami. Dengan metode yang menggabungkan studi kritis dengan subjektivisme, sejarahwan melihat fakta-fakta dengan usaha mencari sinar matahari yang menembus detail-detailnya.
      Burckhardt sebagai salah satu penulis klasik sejarah kebudayaan. Burchardt menulis The Civilzation of the renaissance in Italy. Dari segi metodologis, Burckhardt telah menunjukan bahwa sejarah kebudayaanya telah mendahului bermacam jenis penulisan sejarah sesudahnya, dalam setidaknya dua hal. Partama, pendekatannya singkronis, sistematis, tetapi tanpa kesalahan kronologi dalam sajianya. Kedua, usahanya memperluas bahan-bahan kajian sejarah kebudayaan dengan memberikan gambaran tentang keseluruhan.
      Huizinga, sama dengan Burckhardt juga menekan pentingnya general theme. Dalam tulisan yang secara khusus membicarakan tugas sejarah kebudayaan. Tugas sejarah kebudayaan ialah mencari pola-pola kehidupan, kesenian, dan pemikiran secara bersama-sama. Tugas itu ialah pemahaman secara morfologis dan diskripsi dari kebudayaan secara aktual dan konkrit, tidak dalam bentuk abstrak. Gambar yang kongkrit itu disebut sebagai morfologi budaya, untuk membedakannya dengan sekedar psikologi.
      Sejarah kebudayaan menurut Josep H. Greenberg adalah bagian dari sejarah umum, mengenai perkembangan historis bangsa-bangsa yang belum mengenal tulisan, pada waktu sekarang dan masa lampu. Sejarah kebudayaan hampir selalu dipelajari oleh para antropolog kebudayaan, jika dalam keterangan ini termasuk ahli-ahli separti para arkeolog linguistik. Difinisi ini menunjukan bahwa dalam prinsip tidak ada perbedaan yang nyata antara sejarah seorang sejarahwan profesional dan sejarahwan kebudayaan. Untuk membedakan dua sejarahwan itu dengan mengadakan perbedaan antara penggunaan sumber-sumber dokumentasi tertulis sebagai sumber utama atau satu-satunya sumber bukti yang diterima oleh sejarahwan ahli, dengan bermacam-macam metode yang berdasarkan dugaan (conjectural) yang dipergunakan oleh peneliti kebudayaan yang belum mengenal tulisan.
      Jadi, tujuan sejarah kebudayan sesungguhnya tidak berbeda dari tujuan sejarah Kovensional, terutam sejarah konvensional dipandang dari aspek yang sangat umum dan tidak hanya sebagai sejarah politik, tetapi sebagai sejarah dari segala aspek kebudayaan. Dan dapat ditambahkan, tujuan utama ini, ialah mengenai perkembangan kebudayaan membutuhkan keterangan (data) tertentu yang nonkebudayaan, seperti perubahan-perubahan lingkungan, perbedaan rasial, manusia sebagai hasil dari mekanisme yang mengisolir perbedaan etnis yang sejajar, dan dugaan-dugaan mengenai faktor-faktor demografis kuno. Maka perbedaan-perbedaan sejarah kebudayaan dan sejarah konvensional adalah suatu perbedaan tingkatan bukan perbedaan jenis. Di karenakan sejarahwan kebudayaan untuk sebagain besar harus percaya pada sumber-sumber nondokumenter, ia akan berhadapan dengan kelompok-kelompok dan bukan dengan perorangan, dan skala waktu akan kerap kali relatif daripada positif.
BUKU SEJARAH KEBUDAYAAN
Dalam bukunya: Djoko Soekiman.
Judul Buku: Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukung di Jawa (abad XVII- Medio Abad XX)
Penerbit: Yayasan Bintang Harapan, Jogyakarta, 2000.
      Dalam ulasan buku ini membahas dalam beberapa hal yaitu, awal kehadiaran orang Belanda, masyarakat pendukung kebudayaan Indis, gaya hidup masyarakat Indis, lingkungan pemukiman masyarakat Eropa, Indis dan Pribumi. Dari beberapa pokok landasan pemikiran dari penulis buku tersebut, menyoroti  pencipta budaya dan hasil dari kebudayaanya.
Dalam beberapa ulasan isi buku yang merujuk dalam ruang lingkup sejarah kebudayaan yaitu, penulis buku ini dapat memasukan 7 unsur universal budaya, sebagai berikut:
1.      Bahasa
2.      Sistem teknologi
3.      Sistem mata pencaharian
4.      Organisasi sosial
5.      Sistem pengetahuan
6.      Religi
7.      Kesenian
      Dari tujuh unsur universal budaya ini, memberikan bukti bahwa dalam  ruang lingkup kebudayaan sangat kongkrit. Sedangan dalam ilmu sejarahnya buku ini sudah menjelasakan tentang periodesasinya secara kronologis. Sejarah dalam arti subjektif adalah suatu konstruk, ialah bangunan yang di susun penulis sebagai suatu uraian atau carita. Uraian atau carita itu merupakan suatu kesatuan atau unit yang mencakup fakta-fakta terangkaikan untuk mengambarkan sauatu gejala sejarah, baik proses maupun struktur. Kasatuan ini menunjukan koherensi, artinya dari berbagai unsur saling mempunyai hubuangan satu kesatuan. Fungsi unsur-unsur itu saling menopang dan saling tergantung satu sama lain.
      Beberapa ulsan buku yang mengarah secara kronologis yaitu, dijelaskan pada awal kehadiran  Belanda menjadi seorang pedangan namun lambat laun Orang Belanda menjadi seorang penguasa. Pada masa orang Belanda menjadi pedagang banyak didirikan gudang-gudang (pakhuizen) sebagai tempat penyimpanan barang dangan  sakaligus sebagai tempat penimbunan barang dangang seperti berupa rempah-rempah, antara lain daerah Banten, Jepara, dan Yogyakarta, VOC membangun gudang-gudang kemudian diperkuat dengan benteng pertahanan sekaligus sebagai tempat tinggal, ini merupakan sebagai penguat dalam persaingan perdangan-perdangan.
      Pada masa Peterzoon Coen, yang hadir dalam di Batavia yang diawali juga pembaguan Pakhuizen di tepi timur kali ciliwung. Di Batavia dibuat kanal dan rumah tinggal dibagun sepanjang kanal, berderet-deret ini mempunyai kesamaan dengan negari Belanda.
      Tahun 1650 Batavia sudah menjadi kota benteng dangan luas kurang lebih 150 hektar. Rumah tinggal pejabat, segala hal yang penting seperti, uang, arsip, kekayaan lain disimpan dalam benteng. Pada masa berikutnya banyak para pembesar tinggal di luar benteng diakibatkan dalam luar benteng kondisi keamanan terjamin dan tidak adanya perlawanan dari masyarakat sekitar, namun kegiatan pemrintahan, penerimanan utusan bangsa asing, upacara resmi, pesta-pesta, dilaksanakan dalam benteng, bahkan dalam benteng ini sebagai jantung kegiatan ekonomi kompeni. Sebagai hasil kebudayaan yang dibawah dari Negari Belanda yang diadopsi di negari jajahan.
      Berkembangan pada masa Gubernur Jendaral Volekenier (1737-1741) ini merupakan pejabat tertinggi yang terkahir tinggal di benteng. Para pejabat VOC menmdirikan ruamah dengan taman yang luas yang disebut dengan langdhuis yang mengkuti model Belanda pada abad XVIII. Langdhuis ditempati oleh keluraga yang beranggotakan banyak yang terdiri atas  keluraga inti dengan puluhan bahakan ratusan budak dan gaya seperti ini disebut (landhuizen). Gaya hidup landhuizen ini tidak dikenal di negara Belanda. Keterangan ini meguatkan bahwa salah satu unsur dari 7 universal masuk dalam materi pembahasan.
      Perubahan dalam segi lahan pemukiman orang Belanda kota berada di hilir mulia masuk ke daerah pedalaman ini dikarekan beberapa faktor yaitu, karena bermukin dihilir sungai kurang sehat. Pedalaman dianggap lebih sehat, dengan pembangunan daerah pedalaman Belanda mempertimbangkan kondisi alam dan menyesuaikan tuntutan hidup dengan keadaan alam dan kehidupan sekelilingnya mengambil budaya setempat.
      Pada tahun 1870 berlakunya politik Liberal dan di bukanya terusan Zues, maka memberikan dampak tenaga kerja pendidik dari Belanda semakin benyak beerdatangan keindonesia ini memberikan perluasan dalam percampuran budaya. Organisasi semkin berkembang, indische ini merupakan bentukan dari pribumi dengan orang Belanda berkerjasama, antara lain Dauweas Deker, Tjipto Mangun Kusumo, dan Surwadi Suryanigrat pada tahun 1912. Bahkan dalam karya seni dalam bidang agama misal dilihat dari lampiran gambar Bunda Marai memakai sewek yang khas orang jawa dan gambar-gambar wayang. Dalam segi bahasa banyak bahasa Belanda yang du ucapkan dalam lidah jawa dan begitu juga bahasa Jawa ada istilah-istilah tertentu yang tidak ada pada kosakat bahasa Belanda, orang Belanda megucakapkan bahasa jawa dengan lidah orang Belanda.
      Jadi kebudayaan dan gaya hidup Indis, kata indis yang berasal dari bahasa belanda “Nederlandsch Indie atau Hinda-Belanda. Kebudayaan Indis adalah suatu fenomena historis, yaitu sebagai bukti hasil dari kreativitas kelompok atau golongan masyarakat pada masa kekuasan Hidia Belanda dalam mengahadapi tantangan hidup dan berbagai faktor yang mengadopsi dalam budaya “Eropa- Jawa” mencakup seluruh aspek dari tujuh unsur universal budaya seperti yang dimiliki oleh semua bangsa di dunia. Kebudayaan indis ini mulai mengalami kesurutan ketika Hindia-Beland runtun dan digantikan oleh masa pemerintahan Jepang.


Kamis, 15 Oktober 2015

kemah bebaya di pantai Samboja

Teaser Jejak Budaya 1

Teaser jejak Budaya 2

Jumat, 09 Oktober 2015

Photo

Desa Sanggulan - Kutai Kartanegara

Desa Sumber Sari - Kecamatan Loa Kulu - Kutai Kartanegara
Puncak Bukit Biru 
Peserta Jejak Budaya Kutai Kartanegara dari Kota Bontang 
Cikal adalah  pemebri Nama kegaiatan jejak budaya

Cover Proposal Jb 2

Lokasi kegiatan JB2 di Air terjun Bukir biru 

Gerakan Memnungut sampah dan penanaman di Puncak Bukit Biru 
Gerakan Memnungut sampah dan penanaman di Puncak Bukit Biru 
Menuju desa budaya Lung Anai - Loa Kulu 

Menuju Air Terjun - Kendua Raya desa kedang Ipil




Gerakan Memnungut sampah dan penanaman di Puncak Bukit Biru 
Gerakan Memnungut sampah dan penanaman di Puncak Bukit Biru 


Gerakan Memnungut sampah dan penanaman di Puncak Bukit Biru 

Gerakan Memnungut sampah dan penanaman di Puncak Bukit Biru 

Desa Budaya Lung Anai


Situs makam yang berada di Muara kaman dengan bahasa arab yang di dug sebgai penyebar agam Islam di masa pemerintahan Kutai marta ing dipura
Sebulu 



Desa Tratak 

Kamis, 08 Oktober 2015

Penyingahan Kutai barat - Ngelemba


Asal muasal Kecamatan Penyinggahan tidak jauh berbeda dengan daerah lain yakni hanya terdiri dari beberapa rumah Penduduk terdiri atas beberapa kepala keluarga yang pada masa itu hanya ada satu jalan setapak yang menghubungkan antara rumah ke-rumah penduduk, kelompok rumah pertama kali yang ada saat itu berada di ujung,tenggahan serta hulu sungai yang saat ini hulu sungai menjadi kampung Penyinggahan Ulu, tengah sungai menjadi Penyinggahan Ilir, hilir sungai menjadi kampung Tanjung Haur. Wilayah Kecamatan Penyiggahan sangat strategis sebab tidak jauh dari Kecamatan Penyinggahan ini ada sebuah danau yakni Danau Jempang yang luas serta banyak menyimpan berbagai komunitas ikan-ikan tawar. Seiring dengan adanya perubahan tatanan sosial serta ekonomi masyarakat maka masyarakat yang terdiri beberapa rumah dulunya berkembang hingga menjadi kampung yang pada saat itu berwilayah admisitratif di Kecamatan Muara Muntai Kabupaten Kutai.

Ada yang menarik untuk diketahuiuntuk generasi penerus Penyinggahan sekarang yakni tentang asal muasal Penyinggaha dijadikan nama kampung bahkan sekarang sudah menjadi Kecamatan. Seperti kita ketahui bersama bahwa pada umumnya dahulu masyarakat Kutai yang bertempat tinggal di pesisir sungai mahakam menggunakan perahu dayung (gubang) sebagai alat tranfortasi nelayan, berniaga serta dipertengahan antara Kecamatan Muara pahu yang masa itu ada sebuah kerajaan Baroh (hikayat Raden Baroh) dengan kecamatan Kota Bangun yang pada masa itu ada sebuah kerajaan yakni kerajaan Sri Bangun. Antara dua kerajaan ini sering melakukan hubungan kerajaan, sehingga selalu melakukan perjalanan dengan menggunakan perahu dayung (gubang) baik itu pegawai kerajaan maupun rakyat biasa, apabila setiap kali melakukan perjalanan antara kerajaan Baroh ke kerajaan Sri Bangun atausebaliknya hingga mereka singgaha untuk bermalam karena memang kondisinya tidak memugkin-kan untuk melanjutkan perjalana lagi sebab sudah men-jelang malam hari, dan besok harinya menjelang subuh baru dilanjutkan lagi perjalanannya mereka ketempat yang ingin dituju. Karena hal ini bukan hanya terjadi satu dua kali (hanya kebetulan) dialami oleh mereka dan lagi kebetulan belum adanya nama kampung tersebut maka dinamailah kampung ini dengan nama Penyinggahan yang filosopi-nya (maknanya) yakni SINGGAHAN untuk bermalam sejenak.

Dengan semakin pesatnya perkembangan pembangunan rumah-rumah penduduk serta tatanan masyarakat baik dibidang ekonomi, sosial, budaya serta keamanan kampung Penyinggahan sehingga ada suatu keinginan yang sangat besar oleh masyarakat kampung untuk menjadikan Penyinggahan sebagai Kecamatan sendiri tidak lagi berwilayah administratif dengan Kecamatan Muara Muntai. Sesuai dengan keinginan logis masyarakat tertsebut bahwa antara Kecamatan Penyinggahan dengan Kecamatan Muara Muntai sangatlah jauh apalagi pada masa itu tidak adanya sarana dan prasarana yang cepat untuk melakukan koordinasi serta pelayanan kepemerintahan seperti sekarang ini, maka disampaikan usulan tersebut secara resmi oleh toko-tokoh masyarakat kepada pemeritah Kabupaten Kutai pada tahun 1965.

Berdasarkan pada keinginan Masyarakat Penyinggahan, serta untuk melancarakan jalannya pemerintahan atau pelayanan dan usaha peningkatan taraf hidup masyarakat secara umum, pada tanggal 15 Mei 1965 dengan Nomor: 671 / 2 perihal pengusulan pemecahan kecamatan Muara Muntai menjai 2 (dua) wilayah administratif kecamatan. Dalam hal ini, kecamatan Muara Muntai dan kecamatan Penyinggahan, dengan pembagian daerah antara lain:

Kecamatan Muara Muntai :
No NAMA DESA                                 JUMLAH PENDUDUK (JIWA)
1 Muara Muntai Ilir                                    839 jiwa
2 Muara Muntai Ulu                               2.170 jiwa
3 Kayu Batu                                          1.223 jiwa
4 Rebak Rinding                                    1.324 jiwa
5 Muara Aloh                                        1.090 jiwa
6 Perian                                                 1.029 jiwa
7 Jantur                                                  2.119 jiwa
8 Batuq                                                     981 jiwa
JUMLAH                                            10.775 JIWA

Kecamatan Penyinggahan:
No NAMA DESA                                 JUMLAH PENDUDUK (JIWA)
1 Penyinggahan                                      2.134 jiwa
2 Minta                                                 1.343 jiwa
3 Tanjung Haur                                         665 jiwa
4 Loa Deras                                             587 jiwa
5 Muhuran                                               259 jiwa
JUMLAH                                             5.006 JIWA

Akhirnya atas usulan masyarakat kepada Bupati Kutai Barat Kabupaten Kutai tersebut, maka pada tanggal 30 Mei 1965 di setujuilah pemekaran Kecamatan Muara Muntai menjadi 2 (dua) yakni kecamatan Muara Muntai itu sendiri dan Kecamatan Penyinggahan oleh Gubernur yang ditandatangani oleh sekretaris Gubernur Kalimantan Timur Bapak E. Abdoessamad.







pada jam 11.00 wita tanggal 27 september 2015 rombongan ngelemba bermitan kepada keluarga hangga sapto hadi yang telah memberi makan istimewa dan smabutan kekelurgaan yang sangat luar biasa,
perjalanan ini memberikan makna pad masing masing peserta ngelemba akan parameter nilai Budaya yang terus di pegang teguh oleh warga pedalaman.
admin tak pandai merangkai kata namun semua tersimpan rapi dalam ingatan sepanjang perjalanan dalam penelurusan jejak di hulu pedalaman.banyak PR yang masih harus kita tuntaskan 
agar kita mampu berdiri kokoh dengan jati diri sebagai bangsa dengan kekayaan aneka ragam alam dan budaya.akhir kata sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada keluarga Hangga sapto hadi ,masyarkat penyinggahan ,muara muntai .semoga kita akan bersua kembali dalam nikmatnya kerinduan

perjalanan berikutnya kami lanjutkan menuju desa Jantur dengan kembali melintasi danau jempang yang kering,yang mana biasanya akses ini di gunakan dengan kentiting kalau ini kami mnempuh dengan sepeda motor karena gak ada irnya hehehehe///
sampai Jumpa edisi di desa Jantur kecamatan Muara Muntai kabupaten Kutai Kartanegara
masih dalam Ngelemba
Penulis : @cikal.abhinaya
sumber :arliyanto 
Photo  : cikal & Ramly 

baca juga :
http://jejakbudayaborneo.blogspot.co.id/2015/10/kemah-di-danau-jempang-kenohan-ngelemba.html

ejakbudayaborneo.blogspot.co.id/2015/10/ngelemba-ke-danau-jempang-kenohan.html