Indonesia Penggalan Surga

mencintai Tanah Air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal. Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itu Kami naik gunung

Atas nama Cinta

Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis.

Terimalah salamku dari Timur Borneo

Kearifan lokal adalah jati diri bangsa

Terimalah salamku dari timur borneo

Jejak telah di langkahkan seribu kehendak harus terlahirkan,pada jejak kami belajar ,alam adalah pengikat budaya

Atas nama Cinta

Tinggalkanlah jejak yang bermakna, maka bukan saja kehidupan anda yang akan menjadi lebih baik tapi juga kehidupan mereka yang mengikutinya.

Tampilkan postingan dengan label jejak budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jejak budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2016

Ritual Pelekatan dan Pengukuhan Nama oleh Suku Dayak Modang

Tanggal 13 maret 2016 tim Jejak Budaya berangkat dari kota Tenggarong menuju kebun raya yang terletak di daerah Samarinda. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 60 menit akhirnya kami sampai di kebun raya Samarinda. Setelah membayar tiket masuk sebesar 10 ribu rupiah/orang dan di tambah 2 ribu rupiah untuk satu motor. Tim Jejak Budaya langsung menuju tempat di mana acara ritual suku Dayak Modang.
Kedatangan kami ( tim Jb ) agak terlambat karena pelaksanaan ritual adat sudah di laksanakan. Namun kami berkesempatan melakukan wawancara dengan bapak F Jiu Luay selaku pemangku adat suku dayak Modang.
Berikut pemaparan tentang ritual adat pelekatan dan pengukuhan nama suku Dayak Modang oleh bapak F.Jiau Luay

Prosesi diawali dengan ritual Nen Kaeg Heig Metae atau permohonan kepada Yang Maha  kuasa yang oleh pemangku adat, doa-doa dengan menaruh sembilan telur ayam kampung ke ujung tiap-tiap tongkat bambu yang sudah ditancapkan berjejer. Di bagian bawah tongkat, terdapat sirih, rokok, dan beras. Kemudian seekor ayam jantan berwarna merah disembelih. Darahnya disangga dalam piring putih berisi beras dan telur, dengan diringi tetabuhan gong dan gendang. Masih menurut bapak F Jiu Luay untuk pelekatan nama ada beberapa tahapan setelah bayi dilahirkan yaitu :

Adat Jiah ialah nama sementara yang di berikan 6 hari setelah bayi di lahirkan, yang mana pemberian nama ini dapat di ambil dari nama tumbuhan, binatang atau situasi atau kondisi di mana mana bayi tersebut dilahirkan, sebagai contoh kalau yang lahir perempuan di malam hari bisa dengan nama Dam yang berarti malam, kalau yang lahir adalah bayi laki -laki menurut bapak F Jiu agak kesulitan karena harus menyesuaikan harapan orang tua. Setelah adat Jiah ( sementara ) kemudian masuk pada tahapan pelekatan nama  Me Et Jiem ( pelepasan ) ketika anak berumur 1 satu tahun dengan di lakukan pemotongan rambut. Hal ini di maksudkan untuk meninggalkan atau melenyapkan hal -hal bawaan lahir yang merugikan dalam kehidupan ( gaya lamban, gaya kaku, grogi ) maka ritual pemotongan rambut itu penting di lakukan agar masa pertumbuhan anak – anak menuju proses remaja agar menjadi manusia yang tangkas, kuat dan bermanfaat bagi kehidupan. Adapun pemberian nama pada ritual Me Et Jiem dapat diambil dari keturunannya bisa dari Datoqnya atau silsilah keluarganya, kecuali nama orang yang meninggal karena kecelakaan, bunuh diri itu tidak dapat di gunakan. Kemudian untuk menginjak dewasa ada pemberian nama permanen yang di sebut dengan ritual Net Leug atau memohon calon nama anak lewat sarana daun pisang ambon yang dibentuk segi empat berukuran 3×4 sentimeter sebanyak tiga rangkap. Dua potong daun pisang ambon lalu dipegang F Jiu dalam posisi berdiri. Sambil mengucap doa, daun tersebut dilempar ke atas dan dibiarkan jatuh ke tanah.
Apabila posisi daun dua-duanya telentang tertelungkup, berarti pertanda tidak, maka prosesi dilakukan lagi. Namun saat itu, posisi daun pisang satu telentang dan satu tertelungkup. Itu berarti nama yang sudah diajukan keluarga mendapat jawaban persetujuan leluhur yang kemudian dilanjut dengan acara pemotongan hewan korban bisa berupa babi atau di ganti dengan 2 ekor ayam jantan, ritual ini di sebut dengan Newang Jip ritual ini sebagai mediasiai atau penghantar kepada Tuhan. Setelah prosesi Newang Jip dilanjutkan dengan prosesi Ngawai yaitu sebuah prosesi untuk melakukan tarian bersama keluarga atau para tokoh dari sukud dayak Modang, hal ini sebagai simbol tahapan proses kehidupan alam fana hingga alam baka. Prosesi pemberian nama ditutup ritual penetral lingkungan, sebagai pembersih dari hal-hal yang akan mengganggu kehidupan.

Acara pada waktu siang itu di tutup dengan tarian Hodoq dayak modang .Hal ini menjadi pengalaman baru bagi kami untuk melihat penampilan Hudoq Modang. Pada prinsipnya Hudoq Modang sama dengan Hudoq dari suku dayak Bahau, cuma sedkit perbedaan terletak pada bentuk topeng ( jenis topeng binatang yang di gunakan ) dan musik pengiringnya.

Dalam rangkaian ritual tersebut kami sedikit memiliki bekal pengetahuan akan keanekaragaman budaya Indonesia, yang kini terus – menerus tergerus oleh perkembangan zaman. Namun dalam acara ritual pelekatan nama yang di lakukan oleh suku dayak Modang memiliki dimensi yang luar biasa dalam pola kehidupan yang terus bersinergi dengan alam dan sang pencipta-Nya, hal ini dapat di lihat dari berbagai perlengkapan atau sesaji yang telah disiapaka, rasa penghargaan terhadap sesama.
Dalam dimensi lain kita coba masuk pada pola pendidikan yang ingin di sampaikan melalui rangkaian kegiatan. Pendidikan anak dalam lingkungan keluarga merupakan awal dan pusat bagi seluruh pertumbuhan dan perkembangan anak, untuk mencapai kedewasaan atau dapat disebut mencapai dirinya sendiri. Dapat dikatakan bahwa keluarga adalah “sekolah perkembangan anak”. Karena dalam keluarga tempat fasilitas anak untuk tumbuh dan berpola serta bertingkah laku. Dan dikatakan bahwa keluarga adalah “sekolah perkembangan anak” karena dalam lingkungan keluargalah seorang anak tumbuh dan bertingkah laku sesuai dengan keadaan lingkungan keluarga, yang berlangsung secara berkesinambungan menuju tingkat kedewasaan. Strategi yang baik dalam proses pembentukan moral adalah strategi yang dapat melahirkan metode yang baik pula. Sebab metode merupakan suatu cara dalam pelaksanaan strategi. Agama berperan penting bagi perkembangan moral anak. Untuk itu, menanamkan agama pada anak sejak dini sangat penting. Anak juga akan memahami agama yang dipeluknya secara jelas. Siapa pun pasti ingin melihat anaknya tumbuh menjadi orang sukses dan berakhlak mulia. Butuh kerja keras untuk mewujudkan keinginan tersebut. Tentunya mustahil kalau kita selaku orangtua hanya berpangku tangan, menunggu sampai saat itu tiba. Orangtua justru dituntut secara aktif membantu anaknya mencapai apa yang menjadi cita-citanya dan cita-cita mereka. Selain ilmu pengetahuan, pemahaman agama juga harus menjadi perhatian utama untuk mencetak anak berprestasi hebat dan mulia.

Jika konsep keagamaan telah diajarkan kepada anak sejak dini, kelak setelah dewasa anak akan mengetahui bahwa agama atau keyakinan bukan dijadikan sebagai potensi untuk menciptakan kerusuhan, melainkan merupakan potensi untuk diajak bersama melaksanakan ajaran demi kepentingan kemanusiaan. Karena seluruh agama selalu mengklaim diri sebagai penyelamat umat manusia, dan mengajarkan kebaikan kepada seluruh umatnya.


Pendidikan agama juga sangat penting karena bisa menumbuhkan sikap ideal agar bisa bekerja sama dengan agama atau keyakinan yang lain. Dalam cakupan pergaulan dengan bermacam-macam ideologi dan pandangan mengenai dunia, pendidikan agama bagi anak menjadi agen yang akan mempersiapkan anak untuk memasuki dialog tentang prinsip-prinsip kehidupannya sendiri secara terbuka, kelak ketika mereka semakin dewasa. Selain mengajarkan konsep beragama, anak juga harus dikenalkan dengan hak kebebasan beragama


Perwakilan JB saat wawancara bersama bapak F Jiu Liay

sebagai penutup penulis sedikit mengutip tulisan dari

Michele Borba, Ed.D. pakar psikolog memberi panduan bagi orangtua untuk membangun kecerdasan moral anak, dan Borba menyorot 7 kebajikan utama yang menjadi landasan bagi orangtua, yaitu : Empati – mampu mengidentifikasi dan merasakan apa yang dirasakan orang lain, Nurani – mengetahui cara yang benar dan bertindak menurut cara tersebut, Kendali diri – mengendalikan pikiran dan tindakan agar tindakan kita sesuai dengan norma-norma yang benar, Rasa hormat – menghargai orang lain dengan memperlakukan mereka dengan hormat, Kebaikan hati – memperlihatkan kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain, Toleransi – menghormati martabat dan hak-hak semua orang, Adil – memilih untuk berpikiran terbuka dan bertindak berdasarkan prinsip keadilan. 

Semoga Bangsa Indonesia akan terus hadir anak -anak yang berwasan Luas sehingga tidak mudah diadu domba dikarenakan penyempitan -penyempitan Makna di atas keaneka ragaman Budaya bangsa




Tim Jb bersama Suku dayak Modang 

Penulis : Cikal
dokumentasi : Tim JB

Minggu, 21 Februari 2016

Jejak Budaya ,Gotong Royong pada Hari Peduli Sampah Nasional2016


Masalah sampah memang tidak ada habisnya. Permasalahan sampah sudah menjadi persoalan serius terutama di kota-kota besar, tidak hanya di Indonesia saja, tapi di seluruh dunia. Negara-negara maju telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah tersebut, begitupun bagi pemerintah daerah dimanan persampahan merupakan masalah yang serius. Produksi sampah yang terus menerus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, perubahan pola konsumsi, dan gaya hidup masyarakat telah meningkatkan jumlah timbulan 
sampah, jenis, dan keberagaman karakteristik sampah. 

Beberapa dampak apabila sampah tidak dikelola dengan baik adalah sebagai berikut (Suwerda, 2012:6) :
  1. Sampah dapat menjadi sumber penyakit, lingkungan menjadi kotor. Hal ini akan menjadi tempat yang subur bagi mikroorganisme patogen yang berbahaya bagi kesehatan manusia, dan juga menjadi tempat sarang lalat, tikus dan hewan liar lainnya.
  2. Pembakaran sampah dapat berakibat terjadinya pencemaran udara yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat, dan memicu terjadinya pemansan global.
  3. Pembusukan sampah apat menimbulkan bau yang tidak sedap dan berbahaya bagi kesehatan. Cairan yang dikeluarkan dapat meresap ketanah, dan dapat menimbulkan pencemaran sumur, air tanah, dan yang dibuang ke badan air akan mencemari sungai.
  4. Pembuangan sampah kesungai atau badan air dapat menimbulkan pendangkalan sungai, sehingga dapat memicu terjadinya banjir
Permasalahan sampah tak bisa dianggap enteng. Sampah bisa menimbulkan bencana, seperti yang terjadi dalam tragedi longsornya sampah di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 silam. Tragedi ini memicu dicanangkannya Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diperingati tepat di tanggal insiden itu terjadi.

berangkat dari rekam jejak dari berbagai sudut pandang bahwa persoalan sampah adalah masalah tentang sebuah kesadaran ,cara hidup untuk mengahargai kehidupan.Komunitas Jejak budaya  yang belum genap satu tahun mencoba memabangun solusi permasalahan sampah dengan formula gotong royong.yang di adakan di berbagai wilayah yang telah ada Koordinator daerah jejak budaya.
Budaya Gotong Royong sudah sangatlah melekat pada masyarakat Indonesia sendiri.Hasil perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan pada dasarnya merupakan bagian dari modal sosial yang dikembangkan oleh para tokoh kemerdekaan melalui nilai-nilai kejuangan dan kegotongroyongan. "Mereka mempunyai tekad untuk terbentuknya Bangsa Indonesia yang kuat, bebas dari bayang-bayang kekuasaan dan hegemoni sosiol budaya bangsa lain. Upaya demikian kemudian dikenal sebagai upaya national character building Soekarno mempopulerkan istilah gotongroyong sebagai bagian esensial dari reitalisasi nilai-nilai sosio budaya pada masyarakat lintas suku bangsa di Indonesia agar terbebas dari dominasi sosial,ekonomi,politik,serta ideologi asing yang tidak menguntungkan bangsa Indonesia.
Gotong Royongpun dapat dijadikan sebagai suatu karakteristik atau nilai-nilai yang melekat pada jati diri Bangsa Indonesia.Secara implisit sikap gotong royongpun mempunyai implementasi dalam wawasan nusantara bangsa Indonesia karena wawasa nusantara Indonesia terdiri atas wujud tata laku yang bersifat batiniah dan lahiriah 

Berikut beberapa Kegiatan Gotong royong yang di lakukan Oleh Komunitas jejak budaya di berbagai wilayah di Kalimantan Timur 
Di mulai dari kota Tenggarong pelaksanaan gotong royong dengan bekerja sama dengan  Pemkab Kutai Kartanegara berbagai unsur ,Organisasi,komunitas dan pelajar yang ada di kota Tenggarong,Langsung di pimpin oleh Bupati kutai kartanegara Ibu Rita Widyasari ,dengan melakukan Operasi Semut yang di mulai dari halaman kantor bupati kemudian menyururi sepanjang jalan di tepian mahakam ( Turap ) dan di area taman di Bawah jembatan hingga pal 5 loa kulu.

banyak sampah dari puntung rokok,plastik bekas minuman kemasan.ha ini mengingat turap adalah fasilitas publik yang tiap hari ramai di kunjungi,di jadikan tempat santai baik dari dalam maupun luar kota Tenggarog. Kalau hanya mengharap tugas kebersihan yang bekerja sehari 2 kali tidak akan cukup. Hal terpenting adalah membangun  kesdaran bagai seganap lapisan masyarakat tentang kepedulian untuk membuang sampah padanya yang telah tersedia di sepanjang jalan.dan tak jarang para sampah di buang ke sungai mahakam. Semoga dengan adanya gerakan Etam bebersih menjadikan Inspiarasi untuk semua komponenen bahwa kebersihan adalah Sebgaian dari pada Iman 

Bupati Kutai Kartanegara
Budaya gotong royong dapat dikembangkan melalui tiga tataran yaitu identifikasi dan penggalian nilai-nilai dan spirit bangsa yang disarikan dari nilai-nilai keagamaan yang diyakini dan ideologi bangsa yang dianut ,proses  pembuatan aturan,kebijakan implementasi budaya gotong royong, dapat implementasi dalam pola keseharian di masyarakat, baik pola pikir,pola sikap,dan pola perilaku


Setelah dari kota Tenggarong yok ,kita meneju kota Bontang ,
Gerakan di laksanakan di Tanjung Limau 








 Dari kota bontang selanjutnya kita bergeser ke kecamatan Bengalon - Kutai timur 






Kebanyakan botol plastik terbuat dari plastik polietilena tereftalat (PET), yang diproduksi dari minyak mentah. Tidak hanya ekstraksi minyak bumi yang mengeluarkan emisi gas rumah kaca dan merusak habitat, namun produksi plastik juga membuang racun ke dalam lingkungan
Dari Bengalon Kutim kita bergerser ke Samarinda yang tetap menjadi sorotan saat ini adalah gerekan meumungut sehelai sampah Karang Mumus 
Add caption




 Selanjutnya kota Balikpapan 



Wali Kota Balikpapan 
Terima kasih kepada seluruh rekan - rekan jejak budaya yang telah meluangkan waktu ,tenaga ,dana demi terwujudnya Indonesia bebas sampah tahun 2020. langkah kecil ini jangan berhenti sampai di sini 

Kamis, 11 Februari 2016

5 Jam bersama pak Sakiman -Napak Tilas keliling Indonesia ketika sampai di Tenggarong

Rabu 10 feberuari 2016 Jam 09.05 wita.Melintas penjalan kaki dengan bendera Indonesia di atas tas punggungnya, dengan di tengahnya bertuliskan Napak Tilas Nusantara membuat saya  penasaran.Setalah mengabadikan moment melalui kamera Nikon D500 dan sedikit bertanya asal usulnya,hingga mencoba memberikan tumpangan namun di tolaknya .masa napak tilas kok naik motor  katanya sambil tersenyum. Akhirnya saya memberikan tawaran untuk mampir ke basecamp Jejak Budaya/kukar Kreatif. Inggih mas jawabnya, namun saya mau ngurus surat jalan dulu di kantor bupati ,akhirnya saya arahkan ke pos penjagaan Satpol PP Kutai Kartanegara, agar mendapatkan akses dalam hal pengurusan surat jalan, sesmapinya di Pos Penjaggan Satpol PP di kantor Bupati Kutai kartanegara di sambut baik dengan pihak Satpol PP untuk di teruskan kepada pihak Humas . setelah itu  saya terus kembali melanjutkan perjalanan pulang.

Setelah lama menunggu tepatnya jam 12.30 wita tak kunjung juga datang .Akhirnya mencoba mencarinya kembali dengan  menyusuri jalan KH,Ahmad Muksin Tenggarog, namun sampai ke kantor Bupatipun saya tak menemukan sang penjelajah tersebut. Menurut pihak Satpol PP sudah melanjutkan perjalanan kembali sekitar 2 jam yang lalu .Akhirnya sayapun  kembali dengan persaaan menyesal .kenapa tadi  kok gak minta no HP nya
Setelah sampai di rumah hijau ( sekretariat ) Kukar kreatif yang di mana juga  menjadi skretariat Jejak Budaya mencoba mencari posisi sang penjelajah melalui media sosial siapa tahu ada yang update posisinya di kota Tenggarong.Namun baru buka FB tiba -tiba mati lampu ehh mati listrik  dan ada kabar telah terjadi kebakaran tak jauh dari skretariat .Spontan pengisi rumah hijau berlari menuju tempat kejadian untuk memberikan pertolongan, sampai asiknya saya berlari menabrak pintu mobil yang di buka secara tiba -tiba oleh pemiliknya hingga tejungkal ,walau sakit saya cepat bangkit karena malu  hehehe.

Sekitar 1 jam berada di lokasi kebakaran dan api sudah mulai bisa di padamkan akhirnya saya kembali ke skretariat jejak budaya. dan sesampainya di tempat sudah ada tas yang bertuliskan Napak Tilas Nusantara, namun orangnya gak ada  ternyata Tuhan masih berkehendak untuk memberi ruang perjumpaan dengan sang penjelajah walau saat itu  masih di antar ke salah satu Bank di tenggarong oleh Galib salah satu anggota Jejak Budaya.
Namun tak lama saudara galib datang disusul oleh sang penjelajah, setelah berkenalan dan mempersilahkan duduk mencipi kopi Etam,menikmati gorengan ( bukan tempat penggorenganya ).di temani rekan -rekan jejak budaya yang sudah menunggu kehadiran sang penjelajah.yang siap mendengarkan cerita,berbagi pengalamanya. tak lama skretaris Jejak Budaya keluar dari ruangan lalu memberikan beberapa stiker ,pinbros,serta kaos Jejak Budaya yang di sambut ucapan terima kasih oleh sang penjelajah.Stiker jejak  budayapun di tempelnya di bagain tengah  atribut Napak Tilas Nusantara ,sempat di tegurkan dari salah teman saya ,gak pantas kalau di taruh distu nanti banyak yang ikut nempel ,namun sang penjelajahpun menjawab ,biar saja sebagai kenangan dari Tenggarong ,asal jangan di tempel di jidat saya katanya sambil tertawa lepas ,nampak raut capek namun  penuh makna .
Setelah minta ijin memakai kaos yang di berikan saudara Zani pak Sakiman ingin berphoto bersama  rekan -rekan jejak budaya untuk mengadikan moment dsebgai ucapan terima kasih atas apa yang di berikan rakan -rekan jejak budaya .Nampak masih. Rekan -rekan Jejak Budaya sebagain masih nampak  berbaju dinas ( mereka rela ijin) untuk dapat bisa berjumpa dengan sang penjelajah.
Selanjutnya sambil menikmati kopi ,dan cemilan rekan -rekan jejak budaya yang berada di Tenggarong siap untuk bebrgai pengalaman bersama sang penjelajah  melalaui rangkaian  cerita sang penjelajah ,berawal dari sebuah nama dan asal daerah, hingga maksud ,tujuan hambatan hingga sampai pada hal yang sangat mengharukan dalam perjalanannya.Berikut petikan dari rangkain ceritanya :

 Maaf namanya siapa pak ..?

 Jangan pak lah saya kan masih muda hehehe ,Nama saya ,Sakiman,  saya di lahirkan  pada 1 Januari 1976 di kota Denpasar namun saya di besarkan dan tinggal di desa Gundukan ,Pekalongan -jawa Tengah.
Sejak kapan mas Sakiman memulai Napak Tilas keliling Indonesia ..?
Sejak 2 Desember 2014 tepatnya di Tugu Nol Kilometer RI atau biasa disebut Monumen Kilometer Nol .Lokasi tugu ini terletak di areal Hutan Wisata Sabang tepatnya di Desa Iboih Ujong Ba’u, Kecamatan Sukakarya, sekitar 5 km dari Pantai Iboih. Letaknya di sebelah barat kota Sabang sekitar 29 kilometer atau memakan waktu sekitar 40 menit berkendara.
Terus perjalanan saya lanjutkan  ke banda Aceh
Bengkulu,Jambi,lampung,Banten,Jakarta,JawaTengah,JawaTimur,JawaBarat,Bali,Lombok,Sumbawa,Bima,Flores,Sulawesi,Kalimantan ,Maluku,dan Irian jaya dengan titik akhir di Merauke dengan mengibarkan bendera merah putih yang saya bawa

Apa yang menjadi motivisi atau yang melatar belakangi bapak ehh mas melakukan napak tilas .?
yah napak tilas seperti apa yang pernah di lakukan oleh Bung Karno di berbagai tempat titik /daerah di Indonesia termasuk di mana sang Proklamator di asingkan atau di buang.
Dengan melakukan napak tilas Bung Karno di sertai   doa di mana tempat beliau dulu pernah singgah saya mempunyai mimpi dan harapan akan hadirnya kembali sosok figur pemimpin seperti Bung Karno yang mempunyai   Visioner tentang Indonesia.Yang bagi saya Indonesia itu sangat melimpah ruah potensi alam maupun kebudayaannya, namun bangsa ini terlena dengan tarian -tarian kemunafikan hingga apa yang di cita -citakan Bung Karno jauh dari apa yang di harapkan beliau . sambil menyeruput kopinya mas Sakiman matanya sejenak menerwang jauh sambil matanya berkaca -kaca,kami yang berada di sekitarnya juga larut dalam suasana.
Tak lama kemudian mas Sakiman melanjutkan ceritanya : Napak Tilas ini juga saya lakukan demi kecintaan saya terhadap Indonesia dengan melihat secara langsung keadaan daerah -daerah di Indonesia ,saya juga merasa jenuh /bosan meihat,mendengar elite politik yang ada di pusat maupun yang di daerah yang terus menurus usil satu sama yang lain untuk mencapai memenuhui kelompoknya belaka  ,Mbok yooo saling kerja sama Sing Rukun membangun bangsa ini yang di perjuangkan dengan jutaan nyawa dan tetesan darah para pejuang dulu. sambil menyedot rokoknya dalam -dalam.

maaf kembali, mas nanya nih ,bagaimana menghidupi keluarga atau dana untuk melakukan napak tilas ini ..?
hahahaha kok pakai maaf terus ,biasa aja mas sama saya .wah pertanyaan ini yang sedikit senang hehehe .begini saudara -saudaraku semua .kebetulan saya belum laku ,jadi saya belum punya istri apalagi anak ,jadi saya tidak menanggung beban,
terus bagaimana dengan keluarga mas atau orang tua mungkin.
Saya adalah anak Tunggal dan orang tua saya sudah meninggal,jadi saya merasa gak ada tanggungan ,yaa tanggungan saya adalah menyelesaikan misi ini.

Adakah kendala ketika melakukan napak tilas ini ?
wah banyak sekali ,ketika itu saya baru sampai di daerah Aceh sudah di tangkap GAM  (Gerakan Aceh Merdeka ) selama tiga hari ,namun tetap di beri makan hehehe,
kok bisa di tangkap GAM ..?
ya saya membawa bendera Indonesia ,karena pada dasarnya GAM atau sebagian warga Aceh masih mempunyai keinginan untuk merdeka untuk  menjadi Negara sendiri ,karena mereka hanya mengakui Presiden itu hanya Bung Karno,nah makanya saya di lepaskan karena membawa photo bung Karno ,betapa saktinya Bung karno kan

Selain di Aceh pernah ada kejadian lagi...? 
Banyak sekali mas ,di daerah palembang saya pernah di begal yang berjumlah 12 orang dan membawa kabur perlengkapan saya  hadiah dari Megawati berupa Kamera ,GPS,HP kalau 5 orang saja saya masih bisa melayani ,nah ini 12 orang yaaa saya gak mampu ,sampai kedua jari saya putus memperthankan tas ,Sambil menunjukan jarinya yang memang putus di bagian ujungnya.setelah itu saya hampir putus asa karena jari saya putus ,muka babak belur hingga saya hanya menggunakan obat yang tersedia di alam  seperti rumah laba -laba atau lumut.Namun ketika semangat itu kendur pada suatu malam saya merasa di datangi Bung karno. dan di saat itulah saya  bangkit dan semangat untuk melanjutkan  misi ini dengan  membuat atribut kembali,dan setelah kejadian itu saya lebih tebal keyakinan saya bahwa Allah SWT akan selalu memberikan pertolongan kepada seluruh hamba -Nya .ada juga yang bertemu bertanya  : ini sudah merdeka kok kemana - kemana bawa bendera Merah Putih ,nah saya jawab kembali :lebih gila lagi kalau saya bawa bendera malysia ,biarlah saya gila yang kesana kemari bawa bendera Merah Putih asal jangan sampean yang gila.
pernah juga ketika saya tertidur di pinggir jalan tas saya jatuh hingga bendera itu menyentuh tanah hingga saya di bangunkan TNI ,dan di bilangain bendera gak boleh jatuh /menyentuh tanah kerena Merah Putih  itu adalah lambang harga diri kita sebagai bangsa .mendengar itu saya kagum dan menambah semanagat saya untuk menyelesaikan misi ini .Harga diri bangsa harus tegak dengan apapun kita harus mempertahankannya 
  oh iya mas bagaimana cara mas Sakiman makan ,maksudnya dari mana ..?
whahahahahah ini bumi Allah suadaraku ,ketika rentang perjalanan ini saya menemukan kebenaran - kebanaran ayat Alqur'an ,bahwa " barang siapa bisa menaklukkan dunia maka dunia akan mengikutimu " pernah suatu hari saya lapar dan ingin makan di sebuah warung ,ehh tiba -tiba nemu uang 15 ribu ,dan ketika saya haus pengen buah yang segar ,tiba -tiba ada semangka glundung dari sebuah mobil yang bawa buah ,Aneh kan mas dan itu semua  saya dapatkan pelajaran dari alam. Bahwa ketika kita menyerahkan semua kepada Allah kang Murbaeng Dumados maka tiada yang tak mungkin . tercengang semua kami mendengar ceritanya. pak Sakiman terus melanjutkan ceritanya.
maknya mas orang dulu Sakti -sakti karena nenek moyang kita dulu mau memahami alam dengan mengambil energinya malalui berbagai Tirakat ,nah orang sekarang sudah pada manja makannya aja sudah enak -enak ,takut lapar ,takut hitamlah takut ini itu pokoknya hehehe intinya jangan takut untuk melakukan sesuatu yang menurut kalian baik. dan jangan ganggu keseimbangan alam.

lanjut yaa mas ,kejadian apa yang membuat haru  dalam perjalanan napak tilas ini .

iya gak papa mari lanjut ,hemmm ada beberapa yang membuat saya haru adalah ketika sampai di kota Medan saya di sambut dan di irngi oleh komunitas sepeda di sana ,untuk melakukan berbagai perjalan di kota medan ,
dan ada walikota jawa tengah yang sangat baik menyambut saya ,lalu kejadian kemarin di Jalan Suryanata Samarinda ketika saya berjalan tiba -tiba ada sebuah mobil mewah menghampiri saya dengan membuka setengah kaca menyuruh saya agak minggir karena terlalu banyak orang kata wanita tersebut ; Setelah di tempat agak sepi wanita tersebut turun lalu bertanya : kamu mau kemana ,,? ke Tenggarong ,lalu wanita itu menawarkan untuk bekerja dengan  dia, serta akan memberikan sebuah rumah .Saya kaget ( Sakiman ) ibu ini siapa ..? saya Rita nanti kalau ke Tenggarong mampir ke tempat saya nanti orang Tenggarong tahu kok .iyaa makasih atas tawarannya Insyaa Allah kalau sudah selesai misi saya dan Allah mengizinkan dengan umur panjang saya akan mengabdi pada Ibu ,lalu bu Ritu kembali bertanya?,sekarang kamu punya Reking gak ..? gak bu, terus ibu Rita memberikan sejumlah  uang ,namun saya tolak karena kebanyakan. ( waahh coba anak jb yang di beri ) hahahaha tertwa bersama . lanjut pertemuan pak..lalu bu Rita kembali bertanya apa yang kamu perlukan sekarang ,saya cuma pelukan doa Bu ,okey kalau ada apa -apa kamu silahkan telpon saya

kemudian Ibu Rita membelikan HP dengan meyuruh orang bawahanya agar saya bisa mendokumentasikan perjalanan,dan saya gak tahu kalau bu Rita itu adalah Bupati Kutai Kartanegara ,yang saya tahu waktu itu adalah Ibu Rita Harummmm banget ,hahahahahah kamipun tertwa bersama.

Tak lama kemudaian Hp pak Sakiman berbunyi ternyata ada yang mau nganterin tas dan sandal untuk ganti ,sebab dari Sulawesi pak Sakiman memakai sandal jepit warna biru yang sekarang berada di markas kami dengan tanda tangan beliau.
Masih banyak cerita kami bersama pak Sakiman sang penjelajah ,namun saya sebagai penulis harus melanjutkan bekerja selain itu, kopi di meja sudah habis ,mungkin akan saya sambung di lain kesmepatan.banyak hal yang dapat kita petik jadikan pelajaran dari  pengalaman dari bapak Sakiman tentang bagaimana cara kita untuk mengungkapkan letupan -letupan cinta terhadap Indonesia,bisa dengan memungut sampah ,melakukan penanaman ,saling berbagi cinta sesama anak negeri,tentang sebuah ketegasan ,prinsip dalam menjalani hidup walau godaan terus mendera baik godaan berupa kesakitan hingga kemewahan atau kemudahan.

Terima kasih Juga kepada rekan - rekan Kukar Kreatif dan keluarga saya di Jejak Budaya yang mau meluangkan waktu untuk menemani pak Sakiman selama berada di kota Tenggarong ,kepada pembina jejak budaya  Yadhi AGP yg memberkan Ular kesayanganya untuk menjadi teman perjalanan pak Sakiman, serta memberikan bekal sejumlah uang.Semoga Allah SWT Senantiasa memberikan limpahan Rahmad dan Hidayah- Nya untuk kita semua.
Buat Pak Sakiman Kami semua salut untuk dedikasi bapak untuk Indonesia dengan melakukan Napak Tilas keliling Indonesia ,Sebagai pesan Moral kepada elite Politik bahwa sesungguhnya bangsa ini belum Merdeka dalam arti yang sesungguhnya.

Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penulisan ,berikut saya lampirkan photo -photo ketika rekan -rekan jejak budaya menemani perjalanan di Kota Tenggarong.

















Selamat jalan Pak  Sakiman doa kami bersamamu


Penulis Dan Photo ; Cikal