Indonesia Penggalan Surga

mencintai Tanah Air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal. Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itu Kami naik gunung

Atas nama Cinta

Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis.

Terimalah salamku dari Timur Borneo

Kearifan lokal adalah jati diri bangsa

Terimalah salamku dari timur borneo

Jejak telah di langkahkan seribu kehendak harus terlahirkan,pada jejak kami belajar ,alam adalah pengikat budaya

Atas nama Cinta

Tinggalkanlah jejak yang bermakna, maka bukan saja kehidupan anda yang akan menjadi lebih baik tapi juga kehidupan mereka yang mengikutinya.

Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Januari 2016

Sejarah nama Indonesia

Sebelum kedatangan bangsa Eropa
PADA zaman purba kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai atau Kepulauan Laut Selatan. Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini DwipantaraKepulauan Tanah Seberang, nama yang diturunkan dari kata Sansekerta,dwipa, yang berarti pulau dan antara yang berarti luar atau seberang.

Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Ramayang diculik Ravana, sampai ke SuwarnadwipaPulau Emas, yaitu Sumatra (sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-JawiKepulauan Jawa. Nama Latin untuk kemenyan adalahbenzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra.
Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab, bahkan bagi orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Para pedagang di Pasar Seng, Mekkah menyebut, “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi” atau “Sumatra, Sulawesi , Sunda, semuanya Jawa”.
Masa kedatangan Bangsa Eropa
Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia . Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan jika Asia hanya terdiri dari Arab, Persia , India , dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah Hindia. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”, sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies , Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (*Maleische Archipel, Malay Archipelago , l’Archipel Malais).

Ketika tanah ini dijajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch- Indie atau Hindia Belanda, sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah Hindia Timur atau To-Indo.
Berbagai Usulan Nama
Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan namayang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini kurang populer. Bagi orang Bandung , Insulinde mungkin hanya dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “ India ”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 Lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.
Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kata-kata ini sendiri termuat dalam Sumpah Palapa yang dikumandangkan Gajah Mada, ”Lamun huwus kalah Nuswantara, isun amukti palapa”“jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat”. Oleh Dr. Setiabudi katanusantara zaman Majapahit tersebut diberi pengertian yang nasionalistis.
Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi Nusantara yang modern. Istilah Nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda. Sampai hari ini istilah Nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Lalu dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul?
Nama Indonesia
Tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel “On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations.” Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas, a distinctive name, sebab nama Hindia Tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama, Indunesia atau Malayunesia, nesos, dalam bahasa Yunani berarti Pulau. Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis, “… the inhabitants of the Indian Archipelago or malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.”

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia, Kepulauan Melayu, daripada Indunesia atau Kepulauan Hindia, sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia. Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago, Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan ini, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan,“Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia , which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago.”Ketika mengusulkan nama Indonesia agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!
Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan bukuIndonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918.
Putra pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan namaIndonesische Pers-bureau.
Masa Kebangkitan Nasional: Makna politis
Pada dasawarsa 1920-an, nama Indonesia yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama Indonesia akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda, yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging, berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Dalam satu tulisannya Bung Hatta menegaskan, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut Hindia Belanda. Juga tidak Hindia saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.“
Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij).
Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama Indonesia. Akhirnya nama Indonesia dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda. Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad, Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardji Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch- Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah namun masukkanya Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 membuat Hindia Belanda ‘lenyap’ dan pada akhirnya tergantikan dengan Republik Indonesia.

Simber :http://absolutelyindonesia.com/

Jumat, 16 Oktober 2015

Erau Pelas Benua Guntung - Kota Bontang


Ketua lembaga Adat Guntung bapak H.Hamid Badui bersama Ibu
Setelah berlangsung selama sepekan, perayaan Erau Pelas Benua Guntung di tutup WaliKota Bontang Ir H Adi Darma MSi. Penutupan Erau ini berlangsung di Panggung Adat Kutai Jalan Tari Enggang Kelurahan Guntung Kecamatan Bontang Utara Minggu (22/9) sore.
Dalam sambutannya, Wali Kota H Adi Darma berharap, setelah Erau Pelas Benua Guntung ini berlangsung, masyarakat Bontang dapat terus menjaga kebudayaan adat istiadat serta kesenian daerah yang ada di Kota Bontang.
Kenapa Erau pelas bunua juga ada di Kelurahan Guntung kota Bontang.
Padahal Erau identek dengan Kesultanan Kutai Ing Martadipura yang berpusat di Kota Tenggarong dan ritual Erau juga di laksanakan setiap tahun di pusat kotanya yaitu do kota Tenggarong.Hal ini tak lepas dai wilayah yang menjadi wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara
Sejarah Kutai Kartanegara
Kabupaten Kutai merupakan kelanjutan dari Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Setelah Republik Indonesia berdiri, pada tahun 1947 Kesultanan Kutai Kartanegara dengan status Daerah Swapraja Kutai masuk kedalam Federasi Kalimantan Timur bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir. Kemudian pada 27 Desember 1949 masuk dalam Republik Indonesia Serikat.
Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom/daerah istimewa tingkat kabupaten berdasarkan UU Darurat No.3 Th.1953.
Berdasarkan UU No.27 Tahun 1959, status Daerah Istimewa Kutai dihapus dan daerah ini dibagi menjadi 3 Daerah Tingkat II, yakni:
1. Kotamadya Balikpapan dengan ibukota Balikpapan
2. Kotamadya Samarinda dengan ibukota Samarinda
3. Kabupaten Kutai dengan ibukota Tenggarong
Pada tahun 1999, wilayah Kabupaten Kutai dimekarkan menjadi 4 daerah otonom berdasarkan UU No.47 Th.1999, yakni:
1. Kabupaten Kutai dengan ibukota Tenggarong
2. Kabupaten Kutai Barat dengan ibukota Sendawar
3. Kabupaten Kutai Timur dengan ibukota Sangatta
4. Kota Bontang dengan ibukota Bontang
Peta Wilayah Kabipaten Kutai Kartanegara
Peta Kabupaten Kutai Kartanegara diantara daerah-daerah hasil pemekaran Kutai: Kab. Kutai Barat, Kab. Kutai Timur, Kota Bontang, Kota Samarinda, dan Kota Balikpapan.
Wilayah Administratif Kabupaten Kutai Kartanegara Wilayah Administratif Kabupaten Kutai Kartanegara Wilayah Bekas Kesultanan Kutai Kartanegara Wilayah Bekas Kesultanan Kutai Kartanegara.
Pada tahun 1995 Kabupaten Kutai menjadi salah satu Daerah Percontohan Pelaksanaan Otonomi Daerah, berdasarkan PP No.8 Tahun 1995 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan Kepada Daerah Tingkat II Percontohan.
Istilah Kabupaten Kutai Induk sering digunakan untuk membedakan antara Kabupaten Kutai hasil pemekaran dengan Kabupaten Kutai yang lama. Pada Musyawarah Nasional yang pertama APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia) yang diadakan di Tenggarong pada tahun 2000, Presiden RI Abdurrahman Wahid yang membuka Munas tersebut mengusulkan agar Kabupaten Kutai hasil pemekaran menggunakan nama Kabupaten Kutai Kartanegara, mengingat kota Tenggarong juga merupakan ibukota dari Kesultanan Kutai Kartanegara.
Tanggal 23 Maret 2002, Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri menetapkan penggunaan nama Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Peraturan Pemerintah RI No. 8 Tahun 2002 tentang “Perubahan Nama Kabupaten Kutai Menjadi Kabupaten Kutai Kartanegara”

Sebelum Kota Bontang Diberi nama Bontang oleh Kesultanan Kutai telah ada Tertulis didalam Kitab Saway ( kitab kesultanan kutai ) nama kampong / Daerah Kanibungan ( sekarang Kelurahan Guntung),Pada masa itu masyarakat Kutai Daerah Setempat pernah dipanggil dan diundang oleh Raja Kutai Kartanegara Adji Batara Agung Dewa Sakti ( 1300-1325 ) ke jahitan layar/ Kesultanan Kutai di Tenggarong untuk menyaksikan seruan/Titah Raja atas pemberian nama Bontang kepada daerah yang masih tanah tuah ( keramat ) Kutai. 
Adapun Selanjutnya Perpindahan orang kutai Tenggarong yang masih Kerabat/Keluarga Kesultanan Ada Beberapa Tahap Ke kota Bontang 
Tahap Pertama
Tahun 1782 masa pemerintahan Sultan AM.Muslihuddin,sultan keXV keroan/kerabat kesultanan kutai berdatangan Karena Ditugaskan ke Bontang Sehingga mereka menetap di Gunung Terake ( gunung Sari-Kelurahan Api-Api sekarang ) sebagian lagi Daerah ke Lempake ( kelurahan Loktuan ) & Kanibungan( Kelurahan Guntung ) ini asal usul nenk Moyang Nenek Moyang Radja Bontang Dengan ditandai adanya kuburan di daerah Lempake ( Kelurahan Loktuan ) th 1782 dan kuburan daerah kanibungan ( Kelurahan guntung ) 1788 Mereka ini Ditugaskan oleh Kesultanan untuk menjaga garis pantai daerah kekuasaan Kerajaan Kutai dipesisir Pantai Timur kerena kerajaan waktu itu (1778-1780) pernah dirampok lanun/bajak laut solok Melalui Pesisir Pantai Tersebut. 
Tahap kedua 
Pada masa pemerintahan Sultan ke 16 AM.Salehoddin(1782-1850) Orang Ingris Bernama James Erskine Murray ( Tuan besar raja Maris ) mau membuat atau mendirikan kantor di tenggarong tidak diperbolehkan Oleh Sultan Kutai,karena tidak diperbolehkan Mendirikan Kantor maka Tuan besar maris tersebut marah dan menembak Gerbang keraton kutai dan Kemudian dibalas oleh Awang Long Pangeran Senopati Kesultanan Kutai Karena tembakan balasan tersebut rupanya mengenai J Erskine Muray sehingga tewas / mati Maka Mendengar Hal berita itu maka Gubernumen Belanda memerintahkan Armada Lautnya yang dikirim dari makassar untuk menyerang kerajaan kutai ,Setelah berperang beberapa lamanya Karena Persenjataan yang kalah jauh dan Moreren kala itu maka kesultanan kutai kalah dalam berperang Dan juga karena pada waktu itu anak sultan kutai ditangkap oleh belanda maka oleh sebab itu Dengan terpaksa Kesultanan kutai berdamai Sehingga melahirkan perundingan Tirakat tepian pandan pada tgl 11 oktober 1844.Sehingga pada masa itu Kerabat kesultanan yang tidak mau berdamai dengan Belanda Melarikan Diri dari kampong panji ( Tenggarong )menyingkir Menuju ke Bontang daripada ditangkap dan dibunuh oleh Belanda 
Tahap Ketiga 
Masa pemerintahan Sultan AM.Suleman I (1850-1899) Mempunyai saudara Adji Gau yang bergelar gelar Pangeran Kartanegara 2 atau Pengeran Ratu 2 Telah berdiam dibontang yang mendapat hak pungut hasil dari adiknya AM.Suleman I adalah kakek dari Sultan Kutai yang sekarang 1998-2011 Dengan Memungut Hasil Pajak mulai sungai santan sampai bengalon, Mereka bermukim dan tinggal di Paku Aji Oleh sebab itu arti dari Paku Aji = Orang kuat kerabat Sultan Namun sampai hari ini Lembaga adat kutai Bontang belum tahu pasti Dimana lokasi Kuburannya Tetapi Sekarang Daerah Tersebut dekat Mesjid Al-Aqobah / Plant site tidak jaug dari Monumen Pengabdian PT.PUPUK KALTIM ( kalau sejarah Aji Pao tidak ada di Dalam Salsilah keturunan raja-raja Kutai Di Dalam Kitab Saway ) Sumber: Ketua Lembaga Adat Kutai Bontang Penulis Buku Asal muasal Nama Bontang serketaris lembaga Adat Kutai Bontang 

Berdasarkan sejarah di atas maka beberapa kota yang sudah di mekarkan tetap melestarikan ritual ERAU dengan beberpa hal yang menjadi perbedaan ,Seperti Ritual Mendirikan an Merebahkan Tiang Ayu hanya berlaku hanya di kesultanan Kutai Kartanegara yang di laksanakan di Musium Mulawarman Tenggarong.
menurut beberapa Infomasi yang kami peroleh bahwa warga yang mendiami Kelurahan Guntung - mayoritas dari kelurahan Sukarame Tenggarong,

kurang lebihnya mohon maaf atas sumber informasi yang kami peroleh ,semoga menjadi pelajaran kita semua untuk terus belajar dan memahami sejarah di zaman yang semkin pada arus lalu lintas modernisasi sehingga banyak generasi melupakan sejarah lokal.

Bapak Suparno
Daftar pustaka :Diskominfo kukar 
Asal muasal Nama Bontang serketaris lembaga Adat Kutai Bontang
Dokumentasi : Tim JB


SEJARAH KEBUDAYAAN INDONESIA

SEJARAH KEBUDAYAAN INDONESIA

1.    Zaman Batu dan Logam
Indonesia adalah bangsa yang besar dengan sejarah kebudayaan yang sangat panjang. Menurut hasil temuan-temuan yang ada kebudayaan Indonesia sudah dimulai dari zaman Zaman batu, kira-kira 1.7 juta tahun yang lalu. Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli prehistoris, zaman batu dibagi menjadi 3, yaitu :
a.         Zaman Batu Tua (Paleolitikum)
b.         Zaman Batu Pertengahan (Mesolitikum)
c.         Zaman Batu Muda (Neolitikum)

a.        Zaman Batu Tua (Paleolitikum)
Periode zaman ini adalah antara tahun 50.000 SM - 10.000 SM. Pada zaman ini, manusia hidup secara nomaden dalam kumpulan kecil untuk mencari makanan. Mereka memburu binatang, menangkap ikan dan mengambil hasil hutan sebagai makanan. Mereka belum bisa bercocok tanam. Mereka menggunakan batu, kayu dan tulang binatang untuk membuat peralatan memburu. Mereka membuat pakaian dari kulit binatang tangkapan mereka. Selain itu, mereka telah pandai menggunakan api untuk memasak, memanaskan badan dan mengusir binatang.
b.        Zaman Batu Pertengahan (Mesolitikum)
Ketika masa mesolitikum, penduduk Indonesia sudah mulai hidup dengan cara menetap dan sudah mulai bercocok tanam secara sederhana untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka, disamping berburu hewan dan menangkap ikan. Tempat tinggal yang mereka pilih umumnya berlokasi di tepi pantai (kjokkenmoddinger) dan goa-goa (abris sous roche).
·         Kjokkenmoddinger adalah sampah dapur yang berisi siput, kerang dan barang-barang hasil kebudayaan seperti kapak genggam, ditemukan di sepanjang pantai timur Pulau Sumatera.
·         Abris sous roche adalah goa menyerupai ceruk batu karang yang digunakan manusia sebagai tempat tinggal. Ditemukan didaerah Madiun, Besuki, Timor dan Rote.
c.          Zaman Batu Muda (Neolitikum)
Zaman batu muda (Neolitikum) benar-benar membawa revolusi dalam kehidupan manusia. Pada zaman ini, mereka telah hidup menetap, membuat rumah, membentuk kelompok masyarakat desa, bertani dan berternak untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sejalan dengan itu revolusi alat-alat penunjang kehidupanpun terjadi.
Setelah masa Neolitikum, kemudian kebudayaan Indonesia berlanjut kemasa zaman logam. Hal ini ditandai dengan dikenalnya tekhnik untuk mengecor / mencairkan logam dari biji besi, dan menuangkan kedalam cetakan-cetakan serta mendinginkannya. Oleh karena itulah mereka mampu membuat aneka ragam senjata berburu dan berperang serta alat-alat lain yang mereka perlukan.

2.    Kebudayaan Hindu dan Budha
Berkat hubungan dagang dengan negara-negara tetangga maupun dengan yang lebih jauh seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur tengah, di Indonesia pun mulai berkembang kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha. Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal tarikh Masehi (sekitar abad ke 2 sampai abad ke 4), dibawa oleh para musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya, yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para musafir dari Tiongkok yakni musafir Budha Pahyien.
Agama Budha sendiri mulai masuk ke Indonesia pada sekitar abad ke-5. Agama Budha sendiri dikemudian hari berkembang lebih pesat, dikarenakan dalam agama Budha tidak menghendaki adanya kasta-kasta dalam masyarakat.
Kedua agama tersebut tumbuh dan berkembang secara berdampingan secara damai. Kebudayaan Hindu dan Budha beralkulturasi dengan kebudayaan asli Indonesia yang sebelumnya telah ada. Masa kedua agama tersebut ditandai dengan munculnya banyak kerajaan-kerajaan di Nusantara. Berikut adalah daftar kerajaan-kerajaan Hindu-Budha yang ada di Nusantara :
·         Kerajaan Hindu/Buddha di Kalimantan
a.    Kerajaan Kutai
·         Kerajaan Hindu/Buddha di Jawa
a.    Kerajaan Salakanagara (150-362)
b.    Kerajaan Tarumanegara (358-669)
c.    Kerajaan Sunda Galuh (669-1482)
d.    Kerajaan Kalingga
e.    Kerajaan Mataram Hindu
f.     Kerajaan Kadiri (1042 - 1222)
g.    Kerajaan Singasari (1222-1292)
h.    Kerajaan Majapahit (1292-1527)
·         Kerajaan Hindu/Buddha di Sumatra
a.    Kerajaan Malayu Dharmasraya
b.    Kerajaan Sriwijaya

Baik penganut agama Budha dan Hindu sama-sama melahirkan karya-karya budaya yang bernilai tinggi dalam seni bangunan/arsitektur, seni pahat, seni ukir maupun seni sastra, seperti tercermin dalam bangunan/arsitektur, relief-relief yang dibuat dalam dalam candi-candi di Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Candi-candi yang dimaksud diantaranya : Borobudur, Mendut, Prambanan, Kalasan (Jawa Tengah), Badut, Kidal, Jago, Singosari (Jawa Timur).
Candi Borobudur sendiri adalah candi terbesar dan termegah di Asia Tenggara.

3.    Kebudayaan Islam
Pada abad ke 11, diperkirakan agama Islam telah masuk ke Indonesia, khususnya daerah Jawa dan Sumatra. Hal ini ditandai dengan ditemukannya makam dari seorang wanita islam di kota Gresik. Islam sendiri masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan, di bawa oleh para saudagar-saudagar yang berasal dari Timur Tengah. Karena Islam masuk dengan damai tanpa adanya pemaksaan, Islam pun dengan cepat dapat berkembang di Indonesia.
Bersamaan dengan makin surutnya kejayaan Majapahit di Nusantara pada abad ke-15, muncullah kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan yang dimaksud adalah kerajaan Malaka di Semenanjung Malaka, kerajaan Aceh di Ujung Pulau Sumatera, kerajaan Banten di Jawa Barat, kerajaan Demak dipesisir Utara pulau Jawa Tengah.
Persebaran Islam di Indonesia, khususnya di jawa sebagian besar dilakukan oleh wali songo. "Walisongo" berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.
Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Sekarang agama islam telah menjadi agama terbesar di Indonesia, dengan persentase sekitar 90% warga Indonesia memeluk agama Islam. Bahkan Indonesia sekarang adalah negara dengan jumlah pemeluk agama Islam di dunia. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa kebudayaan islam adalah pemberi saham yang besar dalam perkembangan kebudayaan dan kepribadian bangsa.

4.    Kebudayaan Barat
Dimulai dengan kedatangan bangsa Portugis pada tahun 1512 di Ternate, setelah itu disusul oleh Spanyol dan Belanda. Inilah awal dari masuknya kebudayaan Barat di Indonesia. Portugis dan Belanda yang akhirnya menjajah nusantara juga menyebarkan agama Nasrani di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah yang hampir belum tersentuh agama Islam.
Selama sekitar 350 Indonesia dijajah oleh bangsa asing, selama itu pula Indonesia mendapat masukan kebudayaan dari barat. Setelah Indonesia dikuasai mereka, munculnya budaya-budaya barat, contohnya bangunan-bangunan bergaya arsitektur barat, tradisi-tradisi dari barat seperti acara pesta dansa, dan lain-lain.
5.     Kebudayaan dan Kepribadian
Sudah menjadi watak dan kepribadian Timur pada umumnya, serta masyarakat Jawa khususnya, bahwa dalam menerima setiap kebudayaan yang datang dari luar, kebudayaan yang dimilikinya tidaklah diabaikan. Hal ini harus kita pertahankan terus untuk memfilter kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Kita harus menjaga kebudayaan kita dengan baik agar kebudayaan kita berkembang makin baik dan kita tidak kehilangan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia.    

Afrizal Azhari

MKDU Ilmu Sosial Dasar
Harwantiyoko
Neltje F. Katuuk

PENGERTIAN SEJARAH KEBUDAYAAN DAN RUANG LINGKUPNYA

PENGERTIAN SEJARAH KEBUDAYAAN DAN RUANG LINGKUPNYA.


      Sejarah kebudayaan menurut Huizinga adalah usaha mencari morfologi budaya studi tentang struktur. Ini berbeda dengan sosiologi, yang melihat objeknya melalui paradigma, morfologi budaya melihat gejala-gejala yang mempunyai makna yang jelas dalam dirinya. Setiap detail mempunyai maknanya sendiri, tidak semata-mata sebagai ilustrasi dari konsep umum. Kebudayaan sebagai struktur, sebuah bentuk. Demikian juga, sejarah adalah bentuk kejiwaan dengan apa sebuah kebudayaan menilai masa lalunya.


Sejarah adalah ilmu, bukan mitologi atau roman. Pendapat dari Huizinga bahwa sejarah perlu mencari hubungan-hubungan sehingga realitas dapat dipahami. Dengan metode yang menggabungkan studi kritis dengan subjektivisme, sejarahwan melihat fakta-fakta dengan usaha mencari sinar matahari yang menembus detail-detailnya.
      Burckhardt sebagai salah satu penulis klasik sejarah kebudayaan. Burchardt menulis The Civilzation of the renaissance in Italy. Dari segi metodologis, Burckhardt telah menunjukan bahwa sejarah kebudayaanya telah mendahului bermacam jenis penulisan sejarah sesudahnya, dalam setidaknya dua hal. Partama, pendekatannya singkronis, sistematis, tetapi tanpa kesalahan kronologi dalam sajianya. Kedua, usahanya memperluas bahan-bahan kajian sejarah kebudayaan dengan memberikan gambaran tentang keseluruhan.
      Huizinga, sama dengan Burckhardt juga menekan pentingnya general theme. Dalam tulisan yang secara khusus membicarakan tugas sejarah kebudayaan. Tugas sejarah kebudayaan ialah mencari pola-pola kehidupan, kesenian, dan pemikiran secara bersama-sama. Tugas itu ialah pemahaman secara morfologis dan diskripsi dari kebudayaan secara aktual dan konkrit, tidak dalam bentuk abstrak. Gambar yang kongkrit itu disebut sebagai morfologi budaya, untuk membedakannya dengan sekedar psikologi.
      Sejarah kebudayaan menurut Josep H. Greenberg adalah bagian dari sejarah umum, mengenai perkembangan historis bangsa-bangsa yang belum mengenal tulisan, pada waktu sekarang dan masa lampu. Sejarah kebudayaan hampir selalu dipelajari oleh para antropolog kebudayaan, jika dalam keterangan ini termasuk ahli-ahli separti para arkeolog linguistik. Difinisi ini menunjukan bahwa dalam prinsip tidak ada perbedaan yang nyata antara sejarah seorang sejarahwan profesional dan sejarahwan kebudayaan. Untuk membedakan dua sejarahwan itu dengan mengadakan perbedaan antara penggunaan sumber-sumber dokumentasi tertulis sebagai sumber utama atau satu-satunya sumber bukti yang diterima oleh sejarahwan ahli, dengan bermacam-macam metode yang berdasarkan dugaan (conjectural) yang dipergunakan oleh peneliti kebudayaan yang belum mengenal tulisan.
      Jadi, tujuan sejarah kebudayan sesungguhnya tidak berbeda dari tujuan sejarah Kovensional, terutam sejarah konvensional dipandang dari aspek yang sangat umum dan tidak hanya sebagai sejarah politik, tetapi sebagai sejarah dari segala aspek kebudayaan. Dan dapat ditambahkan, tujuan utama ini, ialah mengenai perkembangan kebudayaan membutuhkan keterangan (data) tertentu yang nonkebudayaan, seperti perubahan-perubahan lingkungan, perbedaan rasial, manusia sebagai hasil dari mekanisme yang mengisolir perbedaan etnis yang sejajar, dan dugaan-dugaan mengenai faktor-faktor demografis kuno. Maka perbedaan-perbedaan sejarah kebudayaan dan sejarah konvensional adalah suatu perbedaan tingkatan bukan perbedaan jenis. Di karenakan sejarahwan kebudayaan untuk sebagain besar harus percaya pada sumber-sumber nondokumenter, ia akan berhadapan dengan kelompok-kelompok dan bukan dengan perorangan, dan skala waktu akan kerap kali relatif daripada positif.
BUKU SEJARAH KEBUDAYAAN
Dalam bukunya: Djoko Soekiman.
Judul Buku: Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukung di Jawa (abad XVII- Medio Abad XX)
Penerbit: Yayasan Bintang Harapan, Jogyakarta, 2000.
      Dalam ulasan buku ini membahas dalam beberapa hal yaitu, awal kehadiaran orang Belanda, masyarakat pendukung kebudayaan Indis, gaya hidup masyarakat Indis, lingkungan pemukiman masyarakat Eropa, Indis dan Pribumi. Dari beberapa pokok landasan pemikiran dari penulis buku tersebut, menyoroti  pencipta budaya dan hasil dari kebudayaanya.
Dalam beberapa ulasan isi buku yang merujuk dalam ruang lingkup sejarah kebudayaan yaitu, penulis buku ini dapat memasukan 7 unsur universal budaya, sebagai berikut:
1.      Bahasa
2.      Sistem teknologi
3.      Sistem mata pencaharian
4.      Organisasi sosial
5.      Sistem pengetahuan
6.      Religi
7.      Kesenian
      Dari tujuh unsur universal budaya ini, memberikan bukti bahwa dalam  ruang lingkup kebudayaan sangat kongkrit. Sedangan dalam ilmu sejarahnya buku ini sudah menjelasakan tentang periodesasinya secara kronologis. Sejarah dalam arti subjektif adalah suatu konstruk, ialah bangunan yang di susun penulis sebagai suatu uraian atau carita. Uraian atau carita itu merupakan suatu kesatuan atau unit yang mencakup fakta-fakta terangkaikan untuk mengambarkan sauatu gejala sejarah, baik proses maupun struktur. Kasatuan ini menunjukan koherensi, artinya dari berbagai unsur saling mempunyai hubuangan satu kesatuan. Fungsi unsur-unsur itu saling menopang dan saling tergantung satu sama lain.
      Beberapa ulsan buku yang mengarah secara kronologis yaitu, dijelaskan pada awal kehadiran  Belanda menjadi seorang pedangan namun lambat laun Orang Belanda menjadi seorang penguasa. Pada masa orang Belanda menjadi pedagang banyak didirikan gudang-gudang (pakhuizen) sebagai tempat penyimpanan barang dangan  sakaligus sebagai tempat penimbunan barang dangang seperti berupa rempah-rempah, antara lain daerah Banten, Jepara, dan Yogyakarta, VOC membangun gudang-gudang kemudian diperkuat dengan benteng pertahanan sekaligus sebagai tempat tinggal, ini merupakan sebagai penguat dalam persaingan perdangan-perdangan.
      Pada masa Peterzoon Coen, yang hadir dalam di Batavia yang diawali juga pembaguan Pakhuizen di tepi timur kali ciliwung. Di Batavia dibuat kanal dan rumah tinggal dibagun sepanjang kanal, berderet-deret ini mempunyai kesamaan dengan negari Belanda.
      Tahun 1650 Batavia sudah menjadi kota benteng dangan luas kurang lebih 150 hektar. Rumah tinggal pejabat, segala hal yang penting seperti, uang, arsip, kekayaan lain disimpan dalam benteng. Pada masa berikutnya banyak para pembesar tinggal di luar benteng diakibatkan dalam luar benteng kondisi keamanan terjamin dan tidak adanya perlawanan dari masyarakat sekitar, namun kegiatan pemrintahan, penerimanan utusan bangsa asing, upacara resmi, pesta-pesta, dilaksanakan dalam benteng, bahkan dalam benteng ini sebagai jantung kegiatan ekonomi kompeni. Sebagai hasil kebudayaan yang dibawah dari Negari Belanda yang diadopsi di negari jajahan.
      Berkembangan pada masa Gubernur Jendaral Volekenier (1737-1741) ini merupakan pejabat tertinggi yang terkahir tinggal di benteng. Para pejabat VOC menmdirikan ruamah dengan taman yang luas yang disebut dengan langdhuis yang mengkuti model Belanda pada abad XVIII. Langdhuis ditempati oleh keluraga yang beranggotakan banyak yang terdiri atas  keluraga inti dengan puluhan bahakan ratusan budak dan gaya seperti ini disebut (landhuizen). Gaya hidup landhuizen ini tidak dikenal di negara Belanda. Keterangan ini meguatkan bahwa salah satu unsur dari 7 universal masuk dalam materi pembahasan.
      Perubahan dalam segi lahan pemukiman orang Belanda kota berada di hilir mulia masuk ke daerah pedalaman ini dikarekan beberapa faktor yaitu, karena bermukin dihilir sungai kurang sehat. Pedalaman dianggap lebih sehat, dengan pembangunan daerah pedalaman Belanda mempertimbangkan kondisi alam dan menyesuaikan tuntutan hidup dengan keadaan alam dan kehidupan sekelilingnya mengambil budaya setempat.
      Pada tahun 1870 berlakunya politik Liberal dan di bukanya terusan Zues, maka memberikan dampak tenaga kerja pendidik dari Belanda semakin benyak beerdatangan keindonesia ini memberikan perluasan dalam percampuran budaya. Organisasi semkin berkembang, indische ini merupakan bentukan dari pribumi dengan orang Belanda berkerjasama, antara lain Dauweas Deker, Tjipto Mangun Kusumo, dan Surwadi Suryanigrat pada tahun 1912. Bahkan dalam karya seni dalam bidang agama misal dilihat dari lampiran gambar Bunda Marai memakai sewek yang khas orang jawa dan gambar-gambar wayang. Dalam segi bahasa banyak bahasa Belanda yang du ucapkan dalam lidah jawa dan begitu juga bahasa Jawa ada istilah-istilah tertentu yang tidak ada pada kosakat bahasa Belanda, orang Belanda megucakapkan bahasa jawa dengan lidah orang Belanda.
      Jadi kebudayaan dan gaya hidup Indis, kata indis yang berasal dari bahasa belanda “Nederlandsch Indie atau Hinda-Belanda. Kebudayaan Indis adalah suatu fenomena historis, yaitu sebagai bukti hasil dari kreativitas kelompok atau golongan masyarakat pada masa kekuasan Hidia Belanda dalam mengahadapi tantangan hidup dan berbagai faktor yang mengadopsi dalam budaya “Eropa- Jawa” mencakup seluruh aspek dari tujuh unsur universal budaya seperti yang dimiliki oleh semua bangsa di dunia. Kebudayaan indis ini mulai mengalami kesurutan ketika Hindia-Beland runtun dan digantikan oleh masa pemerintahan Jepang.