Kamis, 14 Januari 2016
Senin, 11 Januari 2016
Sabtu, 09 Januari 2016
Sejarah nama Indonesia
Sebelum kedatangan bangsa Eropa
PADA zaman purba kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai atau Kepulauan Laut Selatan. Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara, Kepulauan Tanah Seberang, nama yang diturunkan dari kata Sansekerta,dwipa, yang berarti pulau dan antara yang berarti luar atau seberang.
Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Ramayang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa, Pulau Emas, yaitu Sumatra (sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi, Kepulauan Jawa. Nama Latin untuk kemenyan adalahbenzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra.
Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab, bahkan bagi orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Para pedagang di Pasar Seng, Mekkah menyebut, “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi” atau “Sumatra, Sulawesi , Sunda, semuanya Jawa”.
Masa kedatangan Bangsa Eropa
Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia . Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan jika Asia hanya terdiri dari Arab, Persia , India , dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah Hindia. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”, sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies , Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (*Maleische Archipel, Malay Archipelago , l’Archipel Malais).
Ketika tanah ini dijajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch- Indie atau Hindia Belanda, sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah Hindia Timur atau To-Indo.
Berbagai Usulan Nama
Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan namayang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini kurang populer. Bagi orang Bandung , Insulinde mungkin hanya dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.
Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “ India ”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 Lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.
Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kata-kata ini sendiri termuat dalam Sumpah Palapa yang dikumandangkan Gajah Mada, ”Lamun huwus kalah Nuswantara, isun amukti palapa”, “jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat”. Oleh Dr. Setiabudi katanusantara zaman Majapahit tersebut diberi pengertian yang nasionalistis.
Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi Nusantara yang modern. Istilah Nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda. Sampai hari ini istilah Nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Lalu dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul?
Nama Indonesia
Tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel “On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations.” Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas, a distinctive name, sebab nama Hindia Tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama, Indunesia atau Malayunesia, nesos, dalam bahasa Yunani berarti Pulau. Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis, “… the inhabitants of the Indian Archipelago or malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.”
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia, Kepulauan Melayu, daripada Indunesia atau Kepulauan Hindia, sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia. Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago, Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan ini, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan,“Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia , which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago.”Ketika mengusulkan nama Indonesia agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!
Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan bukuIndonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918.
Putra pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan namaIndonesische Pers-bureau.
Masa Kebangkitan Nasional: Makna politis
Pada dasawarsa 1920-an, nama Indonesia yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama Indonesia akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda, yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging, berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Dalam satu tulisannya Bung Hatta menegaskan, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut Hindia Belanda. Juga tidak Hindia saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.“
Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij).
Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama Indonesia. Akhirnya nama Indonesia dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda. Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad, Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardji Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch- Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah namun masukkanya Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 membuat Hindia Belanda ‘lenyap’ dan pada akhirnya tergantikan dengan Republik Indonesia.
Simber :http://absolutelyindonesia.com/
10 hari di Pulau Maratua - Kabupeten Berau
Edisi kali ini adalah melanjutkan kisah rekan - rekan Jejak Budaya yang melakukan perjalanan ke pulau Maratua - Kabupaten Berau - Kalimantan Timur ,yang sudah di posting pada edisi sebelumnya
http://jejakbudayaborneo.blogspot.co.id/2015/10/pulau-maratua.html
Salam Budaya .
Kali ini tim beserta crew JB memilih menginap di salah satu rumah warga yang masih tante dari salah satu rekan kami sebut saja ‘’nggo’ opong’’ sapaan akrabnya ,sebutan nggo’ bagi warga maratua yang berarti ibu atau tante merupakan bagian kecil adat bahasa suku bajau yang ada di maratua .
Setibanya kami di kediamannya yang tak jauh dari dermaga
kami langsung melepaskan perangkat perang kami weheheh udh kaya angkatan laut aja
,, hemmm kami meletakkan barang barang kami di salah satu ruangan dan kami
istirahat sejenak sambil memikirkan kegiatan apa yang dapat dilakukan esok
hari. Sembari istirahat aku menengok ke dapur untuk melihat kali aja lagi masak
hehehe maklum pasukan kelaparan karna perjalanan yang melelahkan dan Nampak di
teras belakang aku melihat ada kepulan asap dan waoow aku terkejut ternyata
nggo’ oppong memasak dengan menggunakan dapur kayu atau “lapohan” bahasa
maratuanya ,dalam benakku “hari gini masih menggunakan kayu ?’’ dan sedikit
bertanya Tanya dalam hati bagaimana mereka menyesuaikan api agar masakan tidak
gosong ? namun hal itu berlalu begitu saja dalam pikiranku karna tidak sabar
ingin melihat apa dan bagaimana masakannya hehehe dan ternyata nggo’ opong
sedang memasak masakan laut khas maratua yaitu kepiting masak merah, ikan bakar
dan beberapa sayur labu.
‘’bagpalengan” tradisi maratua mengantar mempelai pria ke
rumah mempelai wanita dengan diiringi tabur rebana serta salawat dan
http://jejakbudayaborneo.blogspot.co.id/2015/10/pulau-maratua.html
Salam Budaya .
Kali ini tim beserta crew JB memilih menginap di salah satu rumah warga yang masih tante dari salah satu rekan kami sebut saja ‘’nggo’ opong’’ sapaan akrabnya ,sebutan nggo’ bagi warga maratua yang berarti ibu atau tante merupakan bagian kecil adat bahasa suku bajau yang ada di maratua .
Hari pertama telah berlalu dan kami menyambut hari yang baru
wehhhehehe super sekali setelah sehari di maratua kami merasakan pulusi udara
yang bersih dan jauh dari hiruk pikuk suasana kota , dengan rencana yang sudah
disusun sebelumnya kami menuju kamar mandi satu persatu dan mempersiapkan diri
untuk nyebrang ke kampung bohe silian untuk menyaksikan acara pernikahan orang
sana, kapalpun telah siap menjemput beberapa tamu undangan di dermaga jadi kami
langsung ikut kapal penumpang dan langsung menuju ke sebrang pagi itu ,perahu
yang berukuran besar telah di isi oleh bapak bapak ibu ibu dan tamu undangan
lainnya serta cengkrama mreka di atas kapal membuat suasana terasa damai.
30 menit perjalanan di atas air kami lalui dan sempat turun
hujan yang membuat penumpang masuk ke bawah bagian lambung kapal untuk berteduh
,sungguh sangat berkesan kala itu ,,,, dan akhirnya kapalpun bersandar di
dermaga bohe silian dan sebelum beranjak kami ikut bahu membahu untuk menarik
undangan karna kapal dan dermaga yang sedikit berjarak karna kapal lain juga
bersandar di situ,,,iya disitu heheheh …
Tiba di TKP (tempat kejadian pernikahan) hehehehe kamipun di
sambut dan langsung disuruh ambil piring hahahaha tau aja kalo belum sempat
sarapan ,tanpa malu malu kamipun langsung mengambil makan yang telah disajikan
dan langsung mencari tempat nyaman sambil mendengarkan musik electone yang telah
menghibur sejak awal
Setelah selesai makan kami langsung mendokumentasikan
prosesi pernikahan yang sedang berlangsung , sontak saja ramly langsung mulai
menghidupkan kamera profesionalnya dan jemari jemarinya sangat terampil
memainkan tombol tombol bertehnologi tinggi yang memiliki fitur fitur canggih
serta zat zat atom yang terdapat dalam kromosom apalah wwkwkwkwkwkwk
kemudian
menjemput mempelai wanita yang telah siap menunggu dijemput untuk menuju ke
pelaminan.
Beberapa jam telah berlalu dan kami telah puas menyaksikan
acara pernikahan tersebut kami mengambil keputusan untuk pergi ke “goa sembat”
yang lokasinya tidak jauh dari desa bohe silian namun sebelum berangkat ke sana
aku dan ramly menyempatkan mendokumentasikan bangkai kapal pinisi tua yang
konon sarat dengan kisah mistisnya ,sejarahnya kapalm itu adalah kapal orang
Sulawesi yang terdampar di karang karna rusak menabrak karang sehingga kapal
itu di Tarik ke tepi sekitar dermaga bohe silian dan di biarkan tak terurus
selama bertahun tahun sampai muncul kisah mistisnya ,entah karna sudh tidak
bertuan atau karna apa sehingga tidak terurus…
Setelah menyempatkan mengambil gambar di kapal pinisi
tersebut kami langsung bergegas ke goa sembat yang kami sama sekali belum
pernah mendengarnya seperti apa goanya dan pada akhirnya kami sampai di pintu
masuk tracking menuju goa sembat
![]() |
| Goa Sembat |
Setelah semua sudh selesai mandi kami bergegas ke dermaga
karna akan ada kapal yang menyebrang ke desa teluk alulu yaitu base camp kami
selama berada di maratua, malampun tiba bersama ada beberapa teman yang datang
jauh jauh dari samarinda sekitar 4 orang yang ikut bergabung dengan kami
keesokan harinya ke pantai “lumantang” meskipun mereka punya tujuan atau misi
lain yang sudah mereka rencanakan sebelumnya yaitu berlibur dan membuat video
trip maratua untuk dokumentasi mereka
Pagipun tiba bersama beberapa gelas kopi dan teh hangat
langsung di sruput ,aaahh nikmat meskipun belum gosok gigi heheheh, tak
seberapa lama kami langsung sarapan dan packing peralatan untuk bersiap siap
tracking menuju pantai lumantang yang letaknya di belakang kampung teluk alulu
yah jaraknya kira kira sekitar 3 kilo lebih,medan yang di tempuh cukup sulit
karna hutan yang kami lalui merupakan hutan bercampur batu batu karang tajam
dan tebing tebing cukup curam, jika tidak dengan kehati hatian maka resikonya
besar sekali,
Nah ini masakan masih terbilang enak karna masaknya masih
bisa menggunakan nesting dan mie, tapi ada cerita unik tentang kelapa tersebut,
waktu sebelum senja kami mengumpukan kayu dan melihat ada satu pohon kelapa
yang tidak tinggi disbanding pohon kelapa yang lainnya, lansung saja pada saat
itu stenly pergi memanjatnya ,niatnya sih semua buahnya mau di ambil namun
hanya dua buah yang bisa stenly ambil karna pas sudah sampai pucuk pohon sontak
saja wajah stenly pucat dan memerah karna kaget bertemu penunggu pohon kelapa
tersebut yaitu ular hijau ,,,stenly terkejut dan spontan mengeluarkan kata kata
kotor dan seolah menyumpah sampai sampai dia langsung turun secepatnya tanpa
harus tau bagaimana caranya turun yang benar hhahahaha dadanyapun memerah karna
selain dia tidak memakai baju dgesekan batang pohon kelapa yang membuat
sebagian tubuhnya lecet .
Maha Agung Tuhan ku yang menciptakan semua hanya demi kebaikan
Bersambung lagi :
Penulis : Ahmad Idink
editor dan Publis : Cikal
editor dan Publis : Cikal
Terimalah salam kami dari Timur Borneo
Biduk - biduk kabupaten Berau
03 12 2015 hari pertama, berangkat dari kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Kalimantan Timur
Kami ikut serta dalam kegiatan sosialisasi sadar wisata melalui aksi sapta pesona di Desa Giring-giring Kecamatan Biduk-Biduk Kabupaten Berau, program pemerintah ini bertujuan untuk mendorong tewujudnya iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan di suatu wilayah dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sapta Pesona merupakan kondisi yang harus diwujudkan dalam rangka menarik minat wisatawan berkunjung kesuatu daerah atau wilayah di Negara kita. Sapta Pesona terdiri dari 7 unsur yaitu aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah, dan kenangan. Disini kita diberikan pengarahan bagaimana kita menjaga dan mengelola tempat objek wisata di daerah kita maka dari itu dinas pariwisata memberikan penyuluhan dengan melibatkan masyarakat tentang sadar wisata terlebih lagi dalam menjaga dan melestarikan objek yang ada.
Kami yang tergabung dari beberapa komunitas ikut menjadi relawan untuk mengalakkan Sadar Wisata melalui Aksi Sapta Pesona, diantaranya excotic kaltim, mahakam explore, pemuda pelopor, jejak budaya dan dari Dinas Pariwisata Propinsi Kalimantan Timur sebagai pelaksana Kegiatan Sapta Pesona. Selesainya sosialisasi kami melakukan aksi bersih-bersih pantai di Teluk Sulaiman yang mana melibatkan peserta sadar wisata serta masyarakat sekitaran objek wisata dan tak lupa pemasangan plang sapta pesona serta tong sampah ini adalah simbol bahwa kita sebagai masyarakat atau pengunjung wisata harus menjaga yang namanya kebersihan ligkungan di tempat wisata.
04 12 2015 hari kedua, Labuan Cermin, kita berkunjung di Labuan 2 rasa yang terkenal di daerah ini dengan terangnya air dan kita bisa melihat dasar danau dari atas air, kenapa disebut Labuan 2 Rasa karena kita bisa memastikan air yang di atasnya adalah air tawar sedangkan di bawah air sudah berubah menjadi air asin, karena itulah orang-orang sekitaran labuan cermin menyebutnya labuan 2 rasa. Dan tak hanya itu saja kita bisa menjumpai 2 kawasan labuan yang berada d satu jalan ke labuan 2 rasa yaitu sungai asam dan labuan kelambu.
Untuk menuju ke sungai asam kita bisa melalui dengan tracking kurang lebih 30 menit dari jalan darat kalo air pasang kita juga bisa mengunjunginya dengan perahu kelotok, untuk tracking kita harus berhati-hati karena disini terdapat lumpur hidup, dan itu berdasarkan informasi dari pengelola objek disana. Sedangkan untuk Labuan Kelambu kita bisa menjumpainya dengan berjalan 10 menit naik keatas dari labuan 2 rasa, kenapa ini dinamai Labuan Kelambu karena pada saat embun turun di labuan ini embunnya berbentuk kelambu yang menutupi sekitaran labuan tersebut oleh karenanya tempat ini dinamakan labuan kelambu dari pengelola objek labuan cermin.
Setelah dari labuan cermin kami pun istirahat sholat jumat dan makan siang, kami berangkat dari penginapan menuju ke teluk sulaiman untuk mengunjungi beberapa objek wisata yang lumayan jauh dari teluk sulaiman. Dengan memakan waktu 30 menit dari teluk sulaiman dengan menaiki perahu boat kami pun sampai di salah satu pulau yang tak berpenghuni Kaniungan Kecil disini kami dimanjakan dengan pasirnya yang putih bersih serta birunya laut, pulau yang mempunyai berdiameter kurang lebih 1 hektare ini mempunyai keunikan tersendiri.
Sehabisnya kami menikmati pulau kecil Kaniungan, kami melanjutkan 20 menit perjalanan menuju ke Teluk Sumba disini terdapat air terjun bidadari, yang mana air terjunnya terdapat di bibiran pantai teluk sumba, serta kalau kita beruntung kita bisa melihat kawanan lumba-lumba, penyu, dan paus di daerah sekitaran teluk ini. Selesai menikmati di air terjun bidadari teluk sumba, kami melanjutkan untuk ke pulau Kaniungan Besar yang mana disini terkenal dengan wisata snorklingnya.
Suatu kenangan yang tak terelakan dengan indahnya objek wisata di Biduk-biduk kaya objek wisata Pesona Alam Kalimantan Timur Wonderful Indonesia.
Oleh : Deby Rastafara
Oleh : Deby Rastafara



























































